Langsung ke konten utama

Postingan

22 Maret 2015

Aku masih sendiri. Klinik bertambah ramai. Tapi malam selalu sepi. Tak ada yang menggantikan senyum Nayla. Kadang aku membuka foto lamanya di folder rahasia. Rindu yang kutahan bertahun-tahun ini tak pernah sembuh.

5 Juli

Nayla datang untuk kontrol terakhir sebelum pernikahannya. Ia mengenakan dress putih. Cantik sekali. Katanya, ia ingin senyum terbaik di hari bahagianya. “Terima kasih, Dok. Kamu selalu sabar.” Aku ingin memeluknya, atau sekadar bilang jangan pergi… Tapi aku hanya berkata, “Senyummu… sudah sempurna sejak pertama kali kamu datang, Nay.” Itu hari terakhir aku melihatnya secara langsung.

13 November

Hari ini dia bercerita soal seseorang. Lelaki yang ia sebut “calon”. Hati ini tercekat. Tapi aku hanya tersenyum, lalu berkata, “Kalau senyummu sudah rapi, dia pasti makin sayang.” Nayla tertawa. Aku menahan napas. Aku ingin bilang, “Kalau saja kamu tahu, aku lebih dulu mencintaimu…”

Mars Dokter Gigi Indonesia

Mars Dokter Gigi Indonesia Verse 1: Langkah pasti kami ayunkan Membawa harapan dalam senyuman Menjaga sehat mulut dan gigi Demi bangsa yang kuat dan mandiri Reff: Dokter gigi Indonesia bersatu Mengabdi tulus, tanpa ragu Ilmu dan hati kami padukan Untuk negeri yang kita banggakan Verse 2: Dengan etika dan pengetahuan Kami rawat dengan penuh kasih sayang Melayani dengan jiwa bakti Mewujudkan senyum abadi Reff (ulang): Dokter gigi Indonesia bersatu Mengabdi tulus, tanpa ragu Ilmu dan hati kami padukan Untuk negeri yang kita banggakan Penutup: Bersama, maju, dan terus berkarya Dokter gigi, pahlawan mulia

26 juli

Sudah hampir satu tahun Nayla rutin kontrol. Setiap kali dia datang, ruang praktik yang kaku ini jadi hangat. Aku mulai hapal aroma parfumnya, cara dia menyelipkan rambut ke telinga, dan caranya tertawa pelan saat aku bercanda soal giginya yang “manis”. Aku jatuh cinta. Tapi aku tahu batasku. Aku hanya dokter giginya.

1.

Hari ini ada pasien baru. Namanya Nayla. Ia datang dengan ibu dan senyumnya… ah, senyumnya. Aneh sekali, rasanya dadaku bergetar ketika dia tersenyum sopan saat masuk ruangan. “Saya mau pasang behel, Dok,” katanya. Dan sejak saat itu, aku tahu, dia akan jadi lebih dari sekadar pasien.

Kenapa Ada Gigi yang Ditambal Langsung, Ada yang Tidak?

Tidak semua gigi bisa langsung ditambal karena kondisi kerusakan setiap gigi berbeda-beda. Berikut alasan utama kenapa ada yang bisa langsung ditambal dan ada yang tidak: 1. Tingkat Kerusakan Gigi Bisa langsung ditambal: Jika lubang pada gigi masih kecil atau sedang, dan tidak mencapai saraf gigi. Tidak bisa langsung ditambal: Jika lubangnya terlalu dalam, atau sudah mengenai saraf (pulpa), maka harus dilakukan perawatan saluran akar dulu sebelum ditambal. 2. Infeksi atau Nyeri Hebat Gigi yang bernanah, bengkak, atau sakit berdenyut tidak bisa langsung ditambal. Harus diobati dulu infeksinya. Menambal langsung bisa “mengurung” bakteri di dalam, dan itu memperparah kondisi gigi. 3. Kebutuhan Perawatan Lanjutan Dalam beberapa kasus, dokter perlu membersihkan lubang gigi secara bertahap atau dilakukan perawatan saluran akar sebelum tambalan permanen. 4. Struktur Gigi yang Tersisa Kalau kerusakan terlalu besar, tidak cukup kuat hanya ditambal. Bisa jadi perlu dibuat mahkota gigi (crown). J...