Langsung ke konten utama

Ngomentarin Meme Si Om Tentang Bom Paris

Lha yang bilang orang Islam ga marah kalau simbol2nya dicatut ISIS itu sopo tho Lek?

Turki udah nangkepin ribuan tersangka anggota ISIS, emang sampeyan pikir itu artinya apa? Coba dengarkan pendapat2 ulama di seluruh dunia tentang ISIS, rata2 mendukung apa enggak? Hamas yang lagi sibuk melawan penjajah Israel tapi masih sempat nyerang ISIS itu artinya apa ya?

Mau ngomong di Indonesia? Lha orang Islam teriak2 protes soal syiah dan Ahmadiyah yang mencatut nama Islam aja sampeyan yang ga suka (plin plan bapak ini), giliran ISIS malah sampeyan yang minta orang Islam protes, plin plan.

Bagaimana mungkin sampeyan mengharapkan umat Islam di Indonesia atau seluruh dunia akan bereaksi seperti yang sampeyan harapkan ketika Paris diguncang aksi teroris ISIS. Toh ISIS sudah sejak awal dicurigai oleh sebagian besar ulama sebagai kamuflase AS, ISRAEL dan INGGRIS karena taktik mereka menyerang Afghanistan justru tidak berhasil dan malah membuat citra mereka sendiri menjadi buruk. ISIS diharapkan akan menggerogoti citra Islam dari dalam, karena itu lebih efektif ketimbang menyerang negara Islam secara frontal. Jadi bagaimana mungkin orang2 Islam akan mengerutkan keningnya saat melihat tragedi bom Paris? Apa sampeyan akan sedih melihat seekor ular mematok ekornya sendiri? Apa sampeyan akan menangis melihat anjing mengejar2 ekornya sendiri?

Mungkin sampeyan pikir : "Mana mungkin AS melakukan tindakan sekeji itu?"

 Sering2lah baca buku atau majalah terbitan "Londo" Lek, terutama yang mengungkap sejarah AS. Sampeyan bakal menemukan fakta2 "ngerrri" tentang negara ini. Saya aja baru tahu waktu lagi nyari bahan buat nulis buku kalau mereka ternyata betul2 .....ya nanti juga sampeyan taulah. Jadi saya tidak heran kalau si "ular" menggigit ekornya sendiri, sejarah mereka sudah bercerita banyak soal itu.

Apakah seseorang yang sedang berjalan kaki, melihat seekor ular menggigit ekornya sendiri, lantas akan menghentikan langkahnya dan menolong ular itu? Sampeyan jawab sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...