Langsung ke konten utama

"Saya hebat, sudah pernah merasakan muda. Tapi kamu apa bisa sampai tua seperti saya?"

"Saya hebat, sudah pernah merasakan muda. Tapi kamu apa bisa sampai tua seperti saya?"
Sombong orang2tua jaman now. 

Cobalah mendengarkan itu dari mulut seorang jompo yang renta. Lalu apa yang muncul di fikiranmu?

Seorang supir bekas orang kaya yang mengendari xenia, lalu berhenti di depan pengendara Lamborghini Aventador dan menyombong : "Saya sudah pernah naik Lambo, tapi apa kamu pernah naik xenia?".

Masuk gak perbandingan si bekas orang tajir barusan? Iya, jauuuuuuh. Ga nyampe.
Yang satu bekas orang kaya sekarang miskin. Yang satunya masih kaya raya. 

Si bekas orang kaya menyombongkan sesuatu yang tidak bisa dia sombongkan. 

Begitulah rasanya kalau mendengar orang yang sudah berumur, dan merasa ketuaannya sebagai kelebihan. Konyooool

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Ada Gigi yang Ditambal Langsung, Ada yang Tidak?

Tidak semua gigi bisa langsung ditambal karena kondisi kerusakan setiap gigi berbeda-beda. Berikut alasan utama kenapa ada yang bisa langsung ditambal dan ada yang tidak: 1. Tingkat Kerusakan Gigi Bisa langsung ditambal: Jika lubang pada gigi masih kecil atau sedang, dan tidak mencapai saraf gigi. Tidak bisa langsung ditambal: Jika lubangnya terlalu dalam, atau sudah mengenai saraf (pulpa), maka harus dilakukan perawatan saluran akar dulu sebelum ditambal. 2. Infeksi atau Nyeri Hebat Gigi yang bernanah, bengkak, atau sakit berdenyut tidak bisa langsung ditambal. Harus diobati dulu infeksinya. Menambal langsung bisa “mengurung” bakteri di dalam, dan itu memperparah kondisi gigi. 3. Kebutuhan Perawatan Lanjutan Dalam beberapa kasus, dokter perlu membersihkan lubang gigi secara bertahap atau dilakukan perawatan saluran akar sebelum tambalan permanen. 4. Struktur Gigi yang Tersisa Kalau kerusakan terlalu besar, tidak cukup kuat hanya ditambal. Bisa jadi perlu dibuat mahkota gigi (crown). J...

19 Oktober 2023

Hari ini aku dapat kabar… Nayla meninggal. Kecelakaan. Dunia seperti ikut berhenti bersamaku. Aku datang ke pemakamannya. Berdiri di antara orang-orang yang mencintainya secara nyata, sedangkan aku? Aku hanya bayang-bayang di sudut kenangan. Tak ada yang tahu, bahkan ia pun tak pernah tahu… aku menyayanginya lebih dari yang bisa kupahami.