Langsung ke konten utama

Aceh Intoleran?

Pekan lalu, meski masih dalam keprihatinan akibat pandemi, tapi meriahnya suasana Galungan yang merupakan hari raya terbesar dan terpenting bagi umat Hindu Bali tetap terasa. Demikian juga oleh umat Hindu di Aceh, provinsi yang sekarang dikenal identik dengan syariat Islam.

Beberapa tahun yang lalu, foto-foto perayaan umat Hindu Aceh ini tersebar di media sosial. Pada upacara yang melibatkan seluruh warga Hindu untuk menghaturkan puji syukur ke hadapan Dewa Muruga, terlihat para penganut Hindu menusuk bibir, pipi, dan mengusung patung dewa-dewi. Tersebarnya foto-foto ini membuat kaget banyak orang, "Apa benar ini di Aceh?"

Kekagetan banyak orang itu sangat pantas dimaklumi. Sebab status sebagai provinsi yang menerapkan syariat Islam, Aceh jarang sekali dipandang dan dinilai oleh orang luar secara "normal", alias biasa-biasa saja. Pandangan orang luar terhadap Aceh bisa dikatakan berada di kutub ekstrem.


Bagi kelompok liberal, mereka membayangkan Aceh sebagai wilayah yang masyarakatnya sangat represif terhadap penganut agama lain.

Tidak sulit menduga dari mana asalnya cara pandang seperti itu. Asalnya tentu saja dari media-media mainstream, baik yang cetak apalagi online yang berlomba-lomba mengejar click bait. Media-media ini kalau membuat berita tentang Aceh dominan memberitakan razia jilbab, razia perempuan bercelana ketat, hukuman cambuk, pelarangan perayaan Valentine, sampai pelarangan perayaan Tahun Baru.

Akibat dari berita-berita seperti itu, yang tidak utuh menyampaikan fakta sesungguhnya, sampai-sampai banyak yang menyangka bahwa razia jilbab dan berbagai razia yang terkait hukum syariat lain juga dipaksakan berlaku terhadap penganut agama selain Islam. Dominannya informasi seperti ini yang keluar dari Aceh, membuat banyak orang membayangkan Aceh sebagai provinsi yang anti kafir, yang tak memberi ruang sedikit pun bagi kelompok lain di luar Islam.

Mereka membayangkan, di Aceh orang-orang selain yang beragama Islam hidup penuh tekanan. Dengan modal referensi dari informasi semacam ini, yang disajikan media, tidak sedikit orang luar Aceh yang merasa sok tahu tentang situasi daerah ini daripada warga Aceh sendiri. Tapi benarkah Aceh demikian?

Sebenarnya tidak juga. Aceh dengan segala kekhasannya tidak jauh berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia. Tapi kalau mau dibandingkan, dalam kaitannya dengan melekatnya nilai-nilai agama dengan kehidupan sehari-hari, daerah yang paling pas dibandingkan dengan Aceh adalah Bali.

Meski tidak secara eksplisit disebut sebagai daerah istimewa atau otonomi khusus terkait agama, tapi dalam praktiknya Bali juga seperti Aceh. Bali banyak menerapkan "syariat" agama Hindu dalam beragam peraturan daerah maupun aktivitas masyarakat. Di Bali, sebagaimana di Aceh yang kehidupan sehari-hari melekat dengan Islam, keseharian warga melekat dengan ajaran agama Hindu. Identitas orang Bali dan orang Aceh menyatu dengan agama yang mereka anut.

Bedanya Aceh dianggap jahat, ekstrim, radikal, sementara Bali dianggap...........biasa saja. Contohnya, kalau di Aceh ada keharusan untuk memakai jilbab bagi PEREMPUAN MUSLIM, langsung dianggap tindakan mengekang kebebasan. Tapi ketika di Bali semua umat non hindu mengalami kesulitan ketika tidak boleh ini itu saat Nyepi, dianggap eksotis dan sakral.

Ketika terjadi penolakan masyarakat Bali terhadap kebijakan sebuah pusat perbelanjaan yang mewajibkan karyawannya berpakaian muslim dalam menyambut Lebaran, alasannya karena mayoritas karyawan pusat perbelanjaan tersebut adalah ornag kafir, non muslim, dianggap wajar. Tapi ketika masyarakat muslim menyoroti kewajiban pusat perbelanjaan terhadap pegawainya untuk memakai pakaian Natal ketika Desember tiba, muslim langsung dianggap lebay. Betul2 standar ganda dengan kejadian di Bali seperti tersebut di atas.

Itu kurang lebih sama seperti berita tentang seorang penganut Kristen di Aceh yang dicambuk karena menjual minuman keras. Komentar orang-orang atas berita itu benar-benar panas. Rata-rata mengatakan bahwa Aceh sudah melewati batas, memaksakan penerapan hukum Islam bagi orang yang tidak meyakini agama itu. Faktanya, mengapa hukuman itu sampai terjadi, adalah atas permintaan yang bersangkutan; sang terdakwa lebih memilih dihukum dengan hukum syariat Islam, dicambuk di depan umum, daripada dihukum dengan pasal KUHP yang akan membuatnya mendekam di penjara selama 4 bulan.

Di Aceh, seorang terdakwa dalam kasus seperti itu memang diberikan pilihan, mau dihukum berdasarkan KUHP atau syariat Islam.

Sangat Toleran

Dalam kenyataannya, masyarakat Aceh adalah masyarakat yang sangat toleran terhadap penganut agama lain.

Justru orang Acehlah yang merasakan dampak dari berbagai aturan ketat hukum syariat Islam. Sebagai gambaran, bahkan ketika Aceh dilanda konflik hebat dulu pun, yang menjadi korban justru bisa dikatakan hanya umat Islam. Penganut agama lain nyaris tak ada yang disentuh. Itulah toleransi yang diajarkan dalam Islam. 

Di Bali, di mana umat beragama lain harus menoleransi berbagai aktivitas budaya dan keagamaan seperti upacara Odalan yang membuat ruas jalan di berbagai tempat ditutup atau menghormati larangan keluar rumah dan menyalakan lampu di hari Nyepi, dianggap wajar dan sakral. Padahal di Aceh, sebut saja misalnya setiap hari Jumat semua toko, kantor, sampai restoran tutup pada waktu dzuhur saja, hanya waktu dzhuhur, dan sudah dianggap radikal, ekstrem. Padahal non muslim yang butuh sesuatu masih bebas kemana2. Tidak perlu izin ribet dll. Masih bisa nonton tv, menyalakan kompor, lampu dan sejenisnya.

Pada bulan Ramadhan, semua warung makan tutup pada siang hari. Bukan melarang orang kafir makan. Toh mereka tetap bebas makan di rumah masing2. Secara umum, perlakuan terhadap umat penganut agama selain Islam di Aceh tidaklah seburuk yang banyak dibayangkan orang. Kita ambil contoh Banda Aceh, ibu kota provinsi. Sepanjang sejarahnya, sejak Indonesia merdeka sama sekali belum pernah terjadi konflik antaragama di kota itu. Umat Hindu, Buddha, Kristen Protestan, dan Katolik hidup damai di Serambi Mekkah tersebut.

Fakta tentang bagaimana tolerannya masyarakat Aceh misalnya bisa dibaca dari pengakuan Fr. Shan Efran Sinag pada media Kabar Aceh beberapa waktu yang lalu. Calon pastor di Gereja Khatolik Paroki Hati Kudus Banda Aceh tersebut mengatakan bahwa pihak gereja tidak merasakan adanya halangan dalam melaksanakan ibadah mereka. Diskriminasi dari kelompok tertentu juga belum pernah ia rasakan.

"Kami menjalankan kegiatan kegerejaan di Aceh aman-aman saja," katanya. Hal senada juga diungkapkan oleh salah satu jemaat gereja, N. Simamota. Katanya, syariat Islam di Aceh tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk tetap beribadah. Pendeta Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Banda Aceh yang berlokasi di kawasan Peunayong, Domidoyo Ratupenu juga menjelaskan bahwa tidak ada gangguan selama ini terhadap mereka ketika merayakan Natal.

Jadi begitulah, meski masyarakat Aceh dalam kesehariannya hidup berporos pada keyakinan agama yang mereka anut, tapi kelompok masyarakat ini sebenarnya sangat toleran pada penganut agama lain. Berhentilah menganggap muslim itu kejam, karena kalau anda jumlahkan semua korban pembunuhan oleh muslim sepanjang sejarah, tidak sebanding dengan jumlah korban serangan Amerika di Irak, atau korban penjajahan Belanda di Indonesia, dan Amerika atau Belanda bukanlah negara muslim.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Ada Gigi yang Ditambal Langsung, Ada yang Tidak?

Tidak semua gigi bisa langsung ditambal karena kondisi kerusakan setiap gigi berbeda-beda. Berikut alasan utama kenapa ada yang bisa langsung ditambal dan ada yang tidak: 1. Tingkat Kerusakan Gigi Bisa langsung ditambal: Jika lubang pada gigi masih kecil atau sedang, dan tidak mencapai saraf gigi. Tidak bisa langsung ditambal: Jika lubangnya terlalu dalam, atau sudah mengenai saraf (pulpa), maka harus dilakukan perawatan saluran akar dulu sebelum ditambal. 2. Infeksi atau Nyeri Hebat Gigi yang bernanah, bengkak, atau sakit berdenyut tidak bisa langsung ditambal. Harus diobati dulu infeksinya. Menambal langsung bisa “mengurung” bakteri di dalam, dan itu memperparah kondisi gigi. 3. Kebutuhan Perawatan Lanjutan Dalam beberapa kasus, dokter perlu membersihkan lubang gigi secara bertahap atau dilakukan perawatan saluran akar sebelum tambalan permanen. 4. Struktur Gigi yang Tersisa Kalau kerusakan terlalu besar, tidak cukup kuat hanya ditambal. Bisa jadi perlu dibuat mahkota gigi (crown). J...

19 Oktober 2023

Hari ini aku dapat kabar… Nayla meninggal. Kecelakaan. Dunia seperti ikut berhenti bersamaku. Aku datang ke pemakamannya. Berdiri di antara orang-orang yang mencintainya secara nyata, sedangkan aku? Aku hanya bayang-bayang di sudut kenangan. Tak ada yang tahu, bahkan ia pun tak pernah tahu… aku menyayanginya lebih dari yang bisa kupahami.