Langsung ke konten utama

Inilah Mengapa Sendok McFlurry Memiliki Pegangan Persegi



Makanan penutup berbentuk es krim dari McDonald's ini yang disajikan dengan lembut dicampur dengan berbagai topping adalah favorit banyak orang. Jika Anda pernah membeli McFlurry, atau setidaknya pernah melihatnya, Anda mungkin memperhatikan bahwa sendoknya berbentuk aneh. Dengan bagian atas persegi, bagian tengah berongga, dan ada pengaitnya. Sendok McFlurry ini adalah misteri McDonald's yang sebenarnya. 

Mengapa sendok McFlurry berbentuk seperti itu? 
Karena gagang sendok McFlurry berlubang, banyak orang yang mengira harus menggunakan sendok itu seperti sedotan. Tapi karena McFlurrynya kental banget, es krimnya nggak akan bisa tersedot. Jadi mengapa sebenarnya sendok itu harus berlubang jika tidak berfungsi sebagai sedotan? 

Bolongan di sendok itu sebenarnya digunakan dalam proses memblender McFlurry. Sendoknya dirancang agar pas dengan mesin pemadu topping. Setelah karyawan menggunakan mesin es krim McDonald's untuk mengisi gelas, mereka menyendok topping pilihan Anda ke es krim. Gagang sendok lalu didorong ke dalam besi blender dan tertahan di sana saat sendok berputar sampai topping tercampur rata. Hal ini membuat McFlurry bertekstur lembut dan memastikan ada toppingnya di setiap gigitan. Sendok dapat dilepas dengan mudah dari mixer dan segera disajikan kepada pelanggan. Keren, kan? 

Mengapa menggunakan sendok dan bukan hanya mesin? 
Menggunakan sendok McFlurry untuk mencampur es krim dan topping sebenarnya membuat prosesnya jauh lebih mudah bagi karyawan McDonald's. Ini mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk membuat McFlurry dengan menghilangkan bagian tambahan yang perlu dibersihkan di antara penggunaan mesin satu dan alat lainnya. Belum lagi, itu juga lebih higienis bagi pelanggan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...