Langsung ke konten utama

Inilah Spot Paling Kotor di Bandara (Selain Kamar Mandi)



Bandara itu penuh dengan kuman. Tetapi mungkin tidak di area yang Anda pikirkan. Sementara kebanyakan orang menghindari kamar mandi dengan segala cara karena lantai yang becek dan toilet yang bau, mereka sebenarnya bukanlah tempat paling kotor di bandara. Faktanya, jika Anda memilih tempat yang paling banyak kumannya di bandara, toilet mungkin tidak akan ada di tiga peringkat teratas.

Untuk mengetahui tempat paling kotor di bandara, InsuranceQuotes.com, sebuah situs web asuransi yang berbasis di Texas, meminta peneliti melakukan 18 tes di enam permukaan berbeda di tiga bandara utama AS. Mereka menggunakan kit swab untuk mengidentifikasi bintik-bintik dengan jumlah rata-rata tertinggi bakteri dan sel jamur per inci persegi (CFU).

Hasilnya? Tempat paling kotor di bandara sebenarnya adalah kios check-in mandiri, yang rata-rata berisi 253.857 CFU, jauh di atas runner up. (Satu kios check-in mandiri bahkan ditemukan dengan lebih dari 1 juta CFU!) Tempat kedua untuk tempat paling kotor di bandara adalah sandaran tangan bangku ruang tunggu keberangkata, yang berisi kurang lebih 21.000 CFU. Tombol air minum gratis bandara berada di tempat ketiga dengan lebih dari 19.000 CFU.

Para peneliti juga memeriksa tempat-tempat paling banyak kuman di dalam pesawat. Meskipun pesawat terbang mengandung kuman yang lebih sedikit daripada di bandara, mereka juga dipenuhi dengan bakteri dan jamur. Menurut penelitian, tombol flush kamar mandi pesawat adalah yang paling kotor, dengan rata-rata 95.145 CFU. Meja baki dan gesper sabuk pengaman mengikuti jauh di belakang dengan 11.595 dan 1.116 CFU.

Tentu saja, ketika Anda memikirkannya, tidak satu pun dari tempat-tempat kotor ini yang benar-benar mengejutkan, mengingat kios check-in mandiri dan meja baki mungkin adalah barang yang paling banyak disentuh di bandara dan di pesawat. Tetapi cukup mengejutkan untuk mendapati fakta bahwa kursi toilet bandara hanya berisi 172 CFU, atau meja dapur pesawat dengan 361 CFU.

Jadi lain kali Anda mau terbang, cuci tangan dan gunakan hand sanitizer.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...