Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2022

Males Nonton Film Indonesia?

Ga semuanya sih. Tapi beberapa film memang ga enak ditonton. Bukan cuma soal jalan cerita yang terlalu dangkal, tapi juga soal aktingnya.  Aktor Indonesia, cmiiw, memasuki dunia film berdasarkan pertemanan, atau hubungan lain yg kurang lebih tercakup dalam satu kata, yaitu NEPOTISME. Akibatnya tentu saja jarang aktor yg punya akting bagus. Yang ada ya aktor dengan akting berlebihan, atau kurang sama sekali. Untuk berada di level 50 plus minus, alias mendekati pas, rasanya sulit.  Deddy Mizwar, Tio Pakusadewo, atau Ray Sahetapi rasanya tak sembarangan melepas teriakan ketika marah. Intinya tak perlu gestur berlebihan, org paham dari mimik mukanya, dia sedang apa. Klo aktor2 muda? Ketika marah merasa harus teriak. Ketika bahagia, merasa tawanya harus mengisi dunia. Ketika sedih, tangisnya harus banjir. Ditambah lagi ketika akting jadi orang kaya atau anak JKT, gesturenya jadi ngopipaste bule2 di film. Padahal kan gesture Indonesia ga sama dengan bule. Contohnya saja India, goyan...

7 Golongan yang Mendapat Naungan di Padang Mahsyar

 1. Pemimpin yang adil 2. Pemuda yang rajin beribadah kepada Allah 3. Seorang yang hatinya tertinggal di masjid 4. Dua orang yang saling mencintai karena Allah 5. Seorang lelaki yang diajak berzina oleh seorang perempuan kaya dan cantik tetapi ia menolak karena takut pada Allah. 6. Seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi 7. Seseorang yang berzikir kepada Allah dalam kesunyian sampai meneteskan air mata.

Netflix Bangkrut?

 Mungkin ga sampai bangkrut atau dengan kata lain BELUM. Tapi setidaknya anjloknya saham Netflix menunjukan ada sesuatu yang tidak baik sedang terjadi di sana. Netflix katanya kehilangan 200 ribu pelanggan hanya dalam waktu singkat. Rasanya masih jelas dalam ingatan ketika Netflix dengan gagah berani berinvestasi milyaran dolar, yang tentu saja hasil MINJEM, dengan basis data asumsi atau prediksi pengeluaran pelanggannya di MASA DEPAN. Jadi dengan kata lain, Netflix berani bikin film2 sendiri dengan alasan pelanggan mereka diprediksi akan terus naik dan pendapatan itu akan bisa menutupi pengeluaran investasi mereka saat ini. Ya, begitulah. Sebuah perusahaan BERSPEKULASI, bahwa mereka akan untung besar di MASA DEPAN, dengan berbasis data saat ini. Tapi apa salahnya? Bukankah semua perusahaan memang seperti itu? Ya tentu saja. Kita bikin usaha kan karena melihat PROSPEK masa depan. Tapi kemudian yang membedakan adalah bagaimana langkahmu menggapai prospek itu. Perusahaan yang sehat, ...