Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2022

Padien Cerdas

Akhirnya setelah sekian lama menunggu, ketemu juga pasien cerdas.  Seorang pasien tidak cerdas pernah mampir di page klinik saya dan meninggalkan review berikut penilaian buruk. "Udah giginya sakit banget, ga DITINDAK lagi....." kurang lebih BERNADA seperti itulah komentarnya.  Tentu saja komentar itu menarik perhatian saya. Saya dokter gigi yg justru sangat banyak melakukan tindakan. Eh ini malah dibilang tidak mau melakukan tindakan pada pasien. Ada apa dengan org ini? Itu yg ada di pikiran saya.  Saya coba ingat2 lagi. Ternyata sering mengalami, pasien NGOTOT minta DIOBATI dulu, sebelum dicabut. Berkali2 pula saya MEMBALIKAN tuduhan mereka bahwa saya yg MEWAJIBKAN minum obat dulu sebelum pencabutan. Berkali2 pula saya menyadari bahwa mereka minta giginya DIBERSIHKAN dulu pada pertemuan itu. Dan akhirnya pasien cerdas ini datang dan mengeluarkan kesimpulan: "Kalau memang mau dicabut, kenapa gigi saya harus dimatikan syaraf dulu? Cabut mah cabut aja! Gitu juga dalam fik...

Kodrat Ibu2 Memang Melawan Aturan

Tiba2 lewat fyp saya soal aturan warisan dalam Islam. Ibu2 dapat 1 bagian sedangkan bapak2 dapat 2 bagian. Ustadz Khalid kemudian memberikan penjelasan kenapa.  Ya, bukan rahasia lagi klo banyak wanita yg protes soal pembagian ini. Apalagi feminis. Tapi bukan cuma ini. Dulu di Puskesmas Gunung Tabur, Kabupaten Berau, awalnya sy dapat bagian honor BPJS rata2 2,5 jt per bulan. Tiba2 turun jadi 1,5 jt per bulan. Usut punya usut, GOSIPnya, uang bpjs sy diturunkan karena pasien gigi sedikit. Entah benar atau tidak wallahualam. Padahal aturan dari bpjsnya pembagian uang bpjs itu bukan berdasarkan brp pasien yg masuk ruangan, tp berdasarkan persentase jumlah peserta bpjs di puskesmas itu. Ada lagi ketika bidan dan perawat magang diputuskan untuk diberi honor dari pemotongan uang bpjs tenaga kesehatan lainnya. Padahal pegawai magang itu sudah bikin perjanjian untuk tidak digaji selama magang. Sifat kerja mereka sukarela, bukan dipaksa, atau diperbudak.  Tapi itulah ibu2. Mereka senang...