Langsung ke konten utama
Jumatan itu sering digambarkan sebagai kegiatan membosankan.

Jumatan terbagi atas 2 garis besar yaitu khutbah dan shalat. Khutbah adalah sesi yang paling menarik untuk dibicarakan. Terutama karena masih banyak ulama yang menganggap semakin lama mereka berkhutbah, makin mereka dikagumi oleh jamaah. Patokan mereka adalah selalu Soekarno, yang bisa berpidato berjam2. Mereka lupa kalau Soekarno dibekali 2 hal penting yaitu isi pidato yang berbobot dan gaya bicara yang lantang menggelegar. Kadang ulama2 ini tidak memiliki 1 pun dari hal penting tersebut. Akibatnya jamaah bosan.

Ada yang melampiaskan kebosanan dengan tertidur pulas saat khutbah dan terkaget2 saat sudah iqamah. Ada yang membuka hp dan browsing internet. ABG sering juga main game online saat khutbah berlangsung. Tapi hal paling parah yang pernah saya dapati adalah MEMBUAT KERIBUTAN gara2 bosan mendengar khutbah yg lama.

Iya, membuat keributan dalam arti mengeluarkan suara berisik yang mengganggu orang di sekelilingnya. Awalnya saya pikir ada anak kecil yang memainkan kunci mobil/motor ortunya. Setelah meneliti sumber suara, ternyata seorang manusia laki2 berusia di atas 20 tahun sedang menjatuh2kan kunci kendaraannya ke lantai mesjid.

Meski dalam posisi duduk, suaranya yang konstan mengusik perhatian jamaah sekitarnya. Sepertinya dia orang yang super cuek dan sangat amat pede. Sampai sekarang saya tidak habis pikir ada jamaah yang menumpahkan kebosanannya sampai seekstrim itu ckckck.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Terbuka Ruslan Buton Untuk Joko Widodo

Kepada Yth. Saudara Ir. H .Joko Widodo. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Ruslan Buton, mewakili suara seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat prihatin dengan kondisi bangsa saat ini. Di tengah pandemi Covid-19, saya melihat tata kelola berbangsa dan bernegara yang begitu sulit dicerna akal sehat untuk dipahami oleh siapapun. Kebijakan-kebijakan saudara selalu melukai dan merugikan kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Yang lebih menghawatirkan lagi adalah ancaman lepasnya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kami cintai ini. Suka atau tidak suka, di era kepimimpinan saudaralah semua menjadi kacau balau alias amburadul dalam segala hal. Entah karena ketidakmampuan saudara atau bisikan kelompok yang memiliki kepentingan yang tidak bisa saudara pahami atau mungkin karena saudara telah tersandra oleh kepentingan para elit politik. Disini saya tidak akan memaparkan kebijakan-kebijakan saudara yang lebih banyak merugikan ...

Penolakan UU Cipta Kerja, Jokowi Dewa Tak Tersentuh

Unjuk rasa kaum pekerja yang katanya difasilitasi oleh undang-undang, atas nama demokrasi mereka boleh melakukannya. Namun apakah kebebasan itu salah? Adakah keabsahan bahwa ada alasan kuat yang mendasari unjuk rasa menentang disahkannya RUU Cipta Kerja oleh DPR yang juga disetujui oleh pak Jokowi (karena beliau sama sekali tidak terdengar bereaksi menolak sampai sekarang) pada Senin tanggal 5 Oktober 2020? Gelagat yang terbaca jika kita bandingkan dengan faktanya, unjuk rasa para pekerja itu dituduh oleh buzzer didasari dugaan prematur yang beredar melalui media sosial. Tapi sementara itu bunyi RUU yang sesungguhnya, tidak dapat ditemukan di mana2.  Kenapa para wakil rakyat di Senayan demikian nekatnya menyetujui RUU itu tanpa mengedarkan draft RUU secara jelas atau diskusi lengkap di televisi, sementara di belakang nanti RUU itu dianggap akan menyengsarakan rakyat yang diwakilinya? Masak iya pula Presiden dan para menterinya melakukan persekongkolan jahat dengan para calon invest...

Dokter Bhinneka Tunggal Ika? Atau Dokter Anti Islam?

Hhmmm dokter bineka tunggal ika..??? Rasanya dari dulu ga pernah ada masalah dengan Bhineka Tunggal Ika....dari mulai kuliah rekan2 dari sabang sampe merauke, dosennya juga dari berbagai suku ras dan agama.. sampai sekarang jadi TS.. pasien2 juga beragam dari mulai yang matanya sipit kulitnya hitam, dilayani dengan baik sesuai kode etik.. Kenapa tiba2 ada yang ngaku2 dokter Bhinneka Tunggal Ika? Hahaha.. Pilkada DKI sudah selesai, jangan profesi dokter kalian tunggangi karena sakit hati. InsyaAllah tinggal usulkan : Presiden harus beragama non muslim dan berasal dari etnis Tionghoa di UUD kita nanti. Sesuai penafsiran Bhineka Tunggal Ika kalian kan? Hahahaha