Langsung ke konten utama

Belajar Dari New Normal di Timur Tengah

Timur-Tengah setelah pandemi bukanlah Timur-Tengah sebelum pandemi. Timur-Tengah adalah wilayah yang terlebih dahulu menerapkan pelonggaran karantina dan bukan kebijakan kenormalan baru (new normal) karena tidak ada yang normal selama virusnya masih di situ. Dan kalau diperhatikan dengan seksama, negara2 Arab bukan pecundang yang akan menyerah menghadapi corona.. Uni Emirat Arab (UEA) adalah negara di kawasan ini yang melonggarkan karantina wilayah, bukan berdamai dengan corona seperti penafsiran Indonesia, tetapi berusaha bertahan sambil menunggu senjata terbaik melawan corona dengan membuka karantina di dua distrik ekonomi tersibuk mereka akhir April lalu. Jadi bukan membuka negara mereka habis2an. Tapi perlu dicatat, mereka juga satu di antara negara2 yang pertama melakukan karantina atau lockdown. Jadi gak sama dengan Indonesia yang maju mundur saat menghadapi corona, UEA justru bertindak cepat dengan memutuskan lockdown. Lockdown mereka pun ketat. Tidak boleh keluar rumah kecuali dengan izin polisi. Dan izin itu hanya dikeluarkan untuk alasan2 khusus. Makanya kasus corona di mereka mungkin meningkat dengan cepat, tapi kematiannya justru sedikit. Lagi2 jangan samakan dengan Indonesia. Dan saat lockdown mereka dibuka, tercatat TIDAK ADA KASUS BARU. jadi JANGAN SAMAKAN DENGAN INDONESIA.

Kita melihat warga menyambut pembebasan dari karantina dengan suka-cita. Mereka berkonvoi dan memadati sejumlah mall, khususnya di Dubai. Tapi setelah itu mereka tetap pakai jam malam. 10 pagi sampai 6 sore adalah jadwal boleh keluar. New Normal Indonesia? Jadi JANGAN SAMAKAN. Langkah ini diambil dalam rangka memberikan nafas bagi kebuntuan ekonomi yang dihadapi oleh pekerja migran yang ramai bermukim di dua distrik ekonomi tersebut. Bukan Dubai nya. UEA masih cukup kaya untuk membiayai pertahanan pangan terhadap corona. Lagi2 JANGAN SAMAKAN.

Karantina yang berlaku selama berminggu-minggu sejak merebaknya corona di kawasan ini telah menyebabkan pemerintah setempat mengambil langkah karantina yang menyebabkan lumpuhnya perekonomian. Efeknya untuk UEA tidak seberapa. Tapi pemerintah mereka kasihan dengan efeknya terhadap pekerja migran.  Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan masalah serius.

Maka dari itu, UAE menjadi negara yang pertama di Timur-Tengah mengambil kebijakan melonggarkan karantina dan menerapkan kebijakan yang fleksibel khususnya pada sektor ekonomi. Masyarakat UAE tentu merasakan betapa dampak kebijakan karantina lebih menyesakkan daripada pandemi yang sedang dihadapi oleh sebagian warganya. Tapi kalau mereka melihat data kasus covid19 di Indonesia, mereka akan sadar bahwa pemerintahnya sudah bertindak sangat tepat.

Di UAE sendiri ada sekitar 33000 warga yang positif Covid-19, dan 200an di antaranya meninggal dunia. Setiap harinya masih ada sekitar 500 warga yang positif. Dan lonjakan ini justru terjadi setelah pelonggaran karantina. Hingga saat ini mereka sudah melakukan tes bagi 1.000.000 lebih warga, dan akan terus melakukan tes bersamaan dengan kebijakan baru yang akan diambil oleh pemerintah.

Tidak hanya itu, UAE juga melakukan pemantau ketat terhadap warga diduga mempunyai gejala Covid-19 dengan memasang CCTV di tempat-tempat keramaian, seperti mall, supermarket, tempat ibadah, dan lain-lain, sehingga mampu mengantisipasi penularan yang lebih luas. Langkah kebijakan baru diambil karena kemampuan tim medis untuk menekan angka kematian, sehingga meskipun jumlah mereka yang positif terus bertambah, tetapi berhasil diantisipasi agar jumlah kematian tidak mengalami penambahan yang signifikan.

Di samping itu, UAE memperketat protokol bagi warganya agar memakai masker, menjaga jarak, dan menjaga imunitas tubuh, sehingga sebisa mungkin tidak mudah tertular dari mereka yang sudah dinyatakan positif. Inilah kebijakan baru yang diterapkan UAE.

Iran juga termasuk negara yang mulai melonggarkan kebijakan karantina, khususnya bagi wilayah-wilayah yang sudah termasuk zona kuning dan zona hijau. Iran merupakan salah satu negara di Timur-Tengah yang memiliki jumlah warga yang positif dan meninggal dunia karena Covid-19 dalam jumlah yang besar.

Namun Iran sejauh ini mampu memproduksi alat tes sendiri yang memudahkan bagi pemetaan wilayah yang masuk dalam zona merah, kuning, dan hijau. Jadi JANGAN SAMAKAN. Selain itu, Iran berhasil menyembuhkan hampir 80% dari mereka yang selama ini positif. Iran termasuk negara nomor dua setelah China yang berhasil menyembuhkan mereka yang sudah dinyatakan positif dalam jumlah yang amat banyak. 

Iran sebagaimana UAE termasuk negara yang sedang berusaha bangkit dari masalah ekonomi yang terdampak akibat pandemi. Tanpa pandemi pun, Iran menghadapi masalah ekonomi yang sulit akibat embargo ekonomi yang diberlakukan oleh Amerika Serikat sejak 40 tahun yang lalu.

Di tengah pandemi, Iran harus menghadapi dua masalah serius, yaitu krisis ekonomi dan pandemi yang nyata-nyata membuat ekonomi Iran terus mengalami kontraksi. Tapi, istimewanya, Iran tidak surut menghadapi pandemi dengan mengatakan harus berdamai dengan virus ini dan tentunya kepercayaan yang tinggi terhadap kepemimpinan Ayatullah Ali Khamenei.

Dan sejauh ini, Iran berhasil mengendalikan pandemi dengan terus memperluas jangkauan tes, sehingga mempunyai peta wilayah ketersebaran warga yang positif. Selain itu, Iran yakin dengan kemampuan para medisnya dalam menyembuhkan mereka yang terpapar Covid-19. Jadi JANGAN SAMAKAN. Indonesia masih mengandalkan impor untuk alat tesnya. 

Arab Saudi pun pelan-pelan melonggarkan karantina, dan bersiap-siap membuka dua kota suci, yaitu Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Arab Saudi juga mengalami kontraksi ekonomi yang serius akibat anjloknya harga minyak dunia dan berhentinya pemasukan dari sektor umrah. Bahkan, haji tahun ini juga belum ada kejelasan perihal kepastian penyelenggaraannya.

Memang kerajaan mengeluarkan insentif ekonomi bagi mereka yang rentan secara ekonomi akibat pandemi, tetapi Muhammad Bin Salman juga mengambil kebijakan yang tidak populer dengan menaikkan pajak.

Mesir secara pelan-pelan mulai mewacanakan perihal kebijakan normal baru dengan tujuan yang sama, yaitu menghidupkan kembali sektor ekonomi yang lumpuh. Meskipun belum ada langkah-langkah jelas yang akan diambil mengingat pemerintah Mesir cenderung tertutup dalam memberikan informasi penyebaran Covid-19.

Belajar dari negara-negara di Timur-Tengah tersebut yang sudah dan akan menerapkan kebijakan baru, mestinya kita mempunyai peta yang jelas, transparan, dan meyakinkan perihal langkah-langkah yang akan diambil. Kata kuncinya adalah tes yang massif untuk melihat peta penyebaran Covid-19. Sejauh ini kita semua tahu, bahwa kita termasuk negara yang dalam hal tes sangat kecil, sehingga kita tidak bisa mempunyai peta yang terukur dan bisa dipercaya. Belum lagi tingkat kematian masih relatif tinggi.

Kebijakan relaksasi psbb tidak terhindarkan, karena semua negara mengalami hal yang serupa perihal ekonomi yang lumpuh dan perlu diselamatkan segera. Tapi setidaknya kita mempunyai langkah-langkah yang jelas untuk tidak menyepelekan dampak terburuk dari pandemi, utamanya dari segi kesehatan. Kita tidak ingin teledor seperti Amerika Serikat dan negara-negara Eropa yang cenderung abai dan sepele, sehingga menyebabkan kematian dalam jumlah yang besar.

Setidak-tidaknya kita bisa meniru UAE dan Iran yang mampu melakukan tes dalam jumlah yang besar, sembari terus menekan angka kematian dengan menurunkan tim medis terbaiknya untuk menggunakan segala kemampuan dalam menyembuhkan warga yang positif. Setidaknya memberikan dukungan kepada mereka untuk bekerja. Intinya, kita jangan sampai terus berjalan dalam lorong yang gelap seperti sekarang dengan ketidakjelasan dan ketidakpastian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Ada Gigi yang Ditambal Langsung, Ada yang Tidak?

Tidak semua gigi bisa langsung ditambal karena kondisi kerusakan setiap gigi berbeda-beda. Berikut alasan utama kenapa ada yang bisa langsung ditambal dan ada yang tidak: 1. Tingkat Kerusakan Gigi Bisa langsung ditambal: Jika lubang pada gigi masih kecil atau sedang, dan tidak mencapai saraf gigi. Tidak bisa langsung ditambal: Jika lubangnya terlalu dalam, atau sudah mengenai saraf (pulpa), maka harus dilakukan perawatan saluran akar dulu sebelum ditambal. 2. Infeksi atau Nyeri Hebat Gigi yang bernanah, bengkak, atau sakit berdenyut tidak bisa langsung ditambal. Harus diobati dulu infeksinya. Menambal langsung bisa “mengurung” bakteri di dalam, dan itu memperparah kondisi gigi. 3. Kebutuhan Perawatan Lanjutan Dalam beberapa kasus, dokter perlu membersihkan lubang gigi secara bertahap atau dilakukan perawatan saluran akar sebelum tambalan permanen. 4. Struktur Gigi yang Tersisa Kalau kerusakan terlalu besar, tidak cukup kuat hanya ditambal. Bisa jadi perlu dibuat mahkota gigi (crown). J...

19 Oktober 2023

Hari ini aku dapat kabar… Nayla meninggal. Kecelakaan. Dunia seperti ikut berhenti bersamaku. Aku datang ke pemakamannya. Berdiri di antara orang-orang yang mencintainya secara nyata, sedangkan aku? Aku hanya bayang-bayang di sudut kenangan. Tak ada yang tahu, bahkan ia pun tak pernah tahu… aku menyayanginya lebih dari yang bisa kupahami.