Langsung ke konten utama

Pandemi Menyadarkan Para Feminis

Kata ekonomi berasal dari bahasa Yunani oikos, yang berarti rumah, tapi para ekonom tak pernah membahas apa yang sesungguhnya terjadi di dalam rumah. Apa yang disebut work from home di seluruh dunia sejak pandemi Covid-19 selama ini hanyalah dianggap ejekan, perendahan, pengabaian, penghinaan, bahkan ketidakadilan ekonomi terhadap apa pun yang dikerjakan perempuan di rumah.

Merawat (manusia, tumbuhan, hewan), mengasuh manusia, memasak makanan, mencuci benda-benda, menyenangkan manusia, atau pokoknya apa pun yang dikerjakan di rumah, yang banyak dilakukan perempuan dari bangun tidur di pagi hari sampai tidur lagi di malam hari, tidak boleh diakui sebagai bekerja. Dan sebab itu terlarang mendapat upah/gaji yang maksimal sepantasnya. Bukan hanya itu dampaknya. Tetapi juga menyeret banyak wanita2 rapuh untuk turut membenci pekerjaan domestik ini dan mencap dirinya sendiri sebagai feminis. 

Tentu saja tidak ada contoh yang lebih ironis bahkan tragis daripada seorang perempuan bernama Margaret Douglas. Pada usia 28 tahun, Margaret Douglas melahirkan satu-satunya putra yang akan dikenal di seluruh dunia: Adam Smith, sang bapak ilmu ekonomi modern, penulis buku ampuh The Wealth of Nation An Inquiry into the Nature and Causes the Wealth of Nations (1776). Suami Margaret meninggal saat kandungannya berusia sekitar 3 bulan. Dia janda dan tidak pernah menikah lagi.

Saat berumur 2 tahun, Adam Smith cilik mewarisi seluruh kekayaan ayahnya. Margaret Douglas hanya mampu mengajukan klaim atas sepertiga dari warisan itu. Praktis, sejak anaknya berumur 2 tahun, hidup keuangan Margaret tergantung pada kuasa finansial anaknya. Dan kebutuhan hidup Adam Smith tergantung pada si janda Margaret sampai Margaret meninggal pada usia 84 tahun pada 1778 (hanya dua tahun setelah buku termasyhur Adam Smith terbit).

Dalam biografi Adam Smith, John Rae menulis, "Ibunya sejak awal hingga akhir adalah jantung kehidupan Smith." Margaret Douglaslah yang mengurusi Adam Smith bahkan terus ikut mendampingi ke mana pun ia pindah. Adam Smith juga dibantu sepupunya, Janet Douglas, yang meninggal pada 1788. Sepupunya ini juga orang penting di rumah Adam Smith. Menjelang ajalnya, Adam Smith menulis pada temannya: "Dia [Janet] akan meninggalkanku sebagai salah satu laki-laki paling kesepian dan tak berdaya di Skotlandia."

Namun, seperti yang disorot Katrine Marḉal dengan tajam, Adam Smith tidak pernah memasukkan apa yang dilakukan ibunya dan sepupunya sebagai "aktivitas ekonomi". Ada cacat besar dalam ilmu ekonomi (klasik dan neoklasik termasuk neoliberalisme) dan apa yang kemudian disebut manusia ekonomi (homo economics). Para feminis pun akhirnya ikut merendahkan pekerjaan kaumnya ini.

Salah satu aforisme Adam Smith dalam buku termasyhurnya yang kemudian jadi teori ekonomi paling banyak dibahas mencerminkan cacat ini: "Bukan karena kebaikan hati tukang daging, tukang minuman, atau tukang roti kita bisa mendapatkan makan malam kita, melainkan karena mereka memikirkan kepentingan-diri mereka sendiri-sendiri."

Manusia ekonomi itu bersifat rasional (kalkulatif-fungsional), individual, bertindak demi egoisme personal bahkan sangat egois, dan tentu saja berwatak serakah. Dan begitulah konon sifat dasar pasar yang serba maha tahu kepentingan manusia. Semua sifat homo economicus ini, jika dikalkulasi secara kolektif, justru baik dan mendatangkan kemakmuran bangsa (the wealth of nations).

Namun, meski jelas penuh fiksi, agar bisa berfungsi homo economicus harus mencadangkan aktivitas perempuan sebagai aktivitas non-ekonomis. Hanya lelaki yang boleh bertindak berdasarkan teori fiktif homo economicus seperti bertindak demi kepentingan diri sendiri. Sementara perempuan terlarang egois, tidak boleh materialistik --jadi perempuan mata duitan, dan aktivitasnya bernilai ekonomis jauh lebih rendah. Seperti dikatakan Katrine, dalam ilmu ekonomi, "kasih sayang harus dicadangkan dalam kaleng buat penggunaan pribadi. Kalau tidak, segala sesuatu akan rusak." Dan begitulah pembenaran terhadap pengebirian dan perendahan kerja ekonomi perempuan.

Ilmu ekonomi digerakkan oleh, dalam kata-kata Adam Smith, invisible hand (tangan tak terlihat), seraya memaksa dan mengorbankan aktivitas ekonomi perempuan sebagai "hati tak terlihat". Kerja yang bersifat kompetitif ekonomis berada di ruang publik; kerja perempuan di ranah domestik tak diakui secara ekonomis. Dan kalau pun dianggap sebagai kerja, seperti yang dipikirkan ekonom peraih Nobel Gery Becker, hanyalah seperti kasus pekerja rumah tangga yang dikerjakan banyak TKW Indonesia, jam kerjanya tak kenal ampun, dengan gaji sangat rendah. Kerja perempuan hanya aktivitas ekonomi kedua (second economics) sebagaimana eksistensi perempuan sebagai second sex. Begitulah anggapan para feminis terhadap kaumnya.

Akibat keyakinan tak terbukti terhadap homo economicus dalam ilmu ekonomi, berkali-kali ekonomi dunia hancur. Yang tragis, separuh penduduk dunia hidup dengan kurang dari dua dolar sehari. Mayoritasnya adalah perempuan. Jutaan perempuan keluar rumah, bahkan sampai ke negara lain, untuk mencari penghidupan ekonomi yang lebih baik. Namun, sekali lagi, biasanya tetap di sektor sisi rendah atau sisi gelap ekonomi global seperti tukang bersih, pekerja pabrik, pekerja tani, bahkan pekerja seks. Akibat pekerjaan mereka di rumah dipandang rendah oleh lelaki, dan bukannya dibela oleh sesama mereka, malah ikut2an direndahkan. Akhirnya wanita menganggap "kerja" itu ya di luar rumah, menghasilkan uang. Pandangan ini disuburkan oleh propaganda kaum feminis.

Setiap tahun, sekitar setengah juta perempuan meninggal saat melahirkan. Sebagian besar, sebenarnya, bisa diselamatkan andai punya akses pada perawatan kesehatan. Tentu saja, perawatan kesehatan tidak bisa diakses karena lelaki mereka tidak menghargai mereka dengan seharusnya. Begitu juga para feminis yang meremehkan kehidupan mereka yang tidak bekerja di luar rumah.

Buku karya Katrine Marḉal yang ditulis dengan lincah, cerdas, dan kadang sarkas ini adalah gugatan keras mendalam terhadap ilmu ekonomi klasik (Adam Smith dkk), moneterisme Keynesian, sampai neoliberalisme yang hanya menjadikan manusia sebagai human capital alias budak kerja. Setelah selesai membaca buku ini, sangat pantas Anda bertanya siapa yang melakukan kerja domestik di rumah; bagaimana ilmu ekonomi diajarkan di sekolah atau kampus dan efeknya pada perempuan di rumah Anda dan di seluruh dunia.

Buku ini menghantam dengan tajam pikiran Anda yang menganggap kerja ekonomi di sekitar Anda adalah "normal" dan bakal kembali lagi ke "new normal": alias merendahkan kerja perempuan dan memberlakukan ketidakadilan ekonomi kepada perempuan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Surat Terbuka Ruslan Buton Untuk Joko Widodo

Kepada Yth. Saudara Ir. H .Joko Widodo. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Saya Ruslan Buton, mewakili suara seluruh warga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat prihatin dengan kondisi bangsa saat ini. Di tengah pandemi Covid-19, saya melihat tata kelola berbangsa dan bernegara yang begitu sulit dicerna akal sehat untuk dipahami oleh siapapun. Kebijakan-kebijakan saudara selalu melukai dan merugikan kepentingan rakyat, bangsa dan negara. Yang lebih menghawatirkan lagi adalah ancaman lepasnya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kami cintai ini. Suka atau tidak suka, di era kepimimpinan saudaralah semua menjadi kacau balau alias amburadul dalam segala hal. Entah karena ketidakmampuan saudara atau bisikan kelompok yang memiliki kepentingan yang tidak bisa saudara pahami atau mungkin karena saudara telah tersandra oleh kepentingan para elit politik. Disini saya tidak akan memaparkan kebijakan-kebijakan saudara yang lebih banyak merugikan ...

Penolakan UU Cipta Kerja, Jokowi Dewa Tak Tersentuh

Unjuk rasa kaum pekerja yang katanya difasilitasi oleh undang-undang, atas nama demokrasi mereka boleh melakukannya. Namun apakah kebebasan itu salah? Adakah keabsahan bahwa ada alasan kuat yang mendasari unjuk rasa menentang disahkannya RUU Cipta Kerja oleh DPR yang juga disetujui oleh pak Jokowi (karena beliau sama sekali tidak terdengar bereaksi menolak sampai sekarang) pada Senin tanggal 5 Oktober 2020? Gelagat yang terbaca jika kita bandingkan dengan faktanya, unjuk rasa para pekerja itu dituduh oleh buzzer didasari dugaan prematur yang beredar melalui media sosial. Tapi sementara itu bunyi RUU yang sesungguhnya, tidak dapat ditemukan di mana2.  Kenapa para wakil rakyat di Senayan demikian nekatnya menyetujui RUU itu tanpa mengedarkan draft RUU secara jelas atau diskusi lengkap di televisi, sementara di belakang nanti RUU itu dianggap akan menyengsarakan rakyat yang diwakilinya? Masak iya pula Presiden dan para menterinya melakukan persekongkolan jahat dengan para calon invest...

Dokter Bhinneka Tunggal Ika? Atau Dokter Anti Islam?

Hhmmm dokter bineka tunggal ika..??? Rasanya dari dulu ga pernah ada masalah dengan Bhineka Tunggal Ika....dari mulai kuliah rekan2 dari sabang sampe merauke, dosennya juga dari berbagai suku ras dan agama.. sampai sekarang jadi TS.. pasien2 juga beragam dari mulai yang matanya sipit kulitnya hitam, dilayani dengan baik sesuai kode etik.. Kenapa tiba2 ada yang ngaku2 dokter Bhinneka Tunggal Ika? Hahaha.. Pilkada DKI sudah selesai, jangan profesi dokter kalian tunggangi karena sakit hati. InsyaAllah tinggal usulkan : Presiden harus beragama non muslim dan berasal dari etnis Tionghoa di UUD kita nanti. Sesuai penafsiran Bhineka Tunggal Ika kalian kan? Hahahaha