Langsung ke konten utama

Kenapa Selalu Ada Meja di Talkshow Amerika?

Set Talkshow Malam di Amerika

Selama lebih dari enam dekade, pembawa acara talkshow malam di Amerika selalu duduk di belakang meja kayu besar, dengan tamunya di kursi atau sofa empuk di sebelah kanan mereka. Di belakang mereka, dinding dilukis, menirukan pemandangan di luar ruangan. Di sekeliling mereka, seluruh set studio dibuat terang benderang ditambah nuansa kayu-kayuan yang hangat. Ada mug di atas meja atau, dalam kasus Johnny Carson, sepasang tanaman di pot kecil.


Program acara ini sendiri sudah menjadi bagian dari ritual malam orang Amerika. Set acara talkshow malam menjadi sesuatu yg ikonik di televisi. Acara ini biasanya dibawakan oleh komika ternama seperti Stephen Colbert, Jimmy Fallon dan Jimmy Kimmel. Mengikuti jejak senior mereka yaitu Jay Leno dan David Letterman, dan lebih tua lagi, Johnny Carson, Steve Allen dan Dick Cavett.


Johnny Carson menjadi pembawa acara talkshow malam terlama di televisi, yaitu menghabiskan empat dekade di belakang meja "The Tonight Show."


Sungguh menarik bagaimana set acara malam ini tidak banyak berubah sejak mereka memulainya pertama kali. Ini dianggap sebagai gaya ruang tamu Amerika. Tapi ruang tamu dimana salah satu orangnya, pemilik rumah, duduk di belakang meja.


Ketika pertama kali diperkenalkan sekitar tahun 1949, acara larut malam adalah hal yang berbeda dari hiburan malam yang sudah dikenal seperti "The Ed Sullivan Show" atau program talkshow siang hari seperti "The Today Show." Sebelum debut program baru yang tayang setelah pukul 11 ​​malam ini, siaran berita malam menjadi pengantar tidur penonton TV.


Talkshow larut malam ini dimulai sebagai pengganti acara untuk menghabiskan waktu penonton. Saat ini, acara talkshow larut malam telah berkembang pesat di jaringan televisi AS, dan mulai menyertakan lebih banyak wanita dan ragam acara/segmen. Termasuk acara baru yang disutradarai oleh penulis Seth Meyers Amber Ruffin dan YouTuber populer Lilly Singh.


Namun pengaturan mejanya sebagian besar tetap sama. Beberapa host pernah berusaha menghilangkan meja besar ini seperti ketika Bill Maher duduk di antara tamunya di acara tahun 90-an "Politically Incorrect." Tahun lalu, Samantha Bee menjelaskan alasan acara mingguannya "Full Frontal" tanpa meja dalam sebuah wawancara dengan Television Academy Foundation. Ia mengatakan bahwa pendekatan tradisional membuatnya merasa "sangat terkekang."


Komedian Steve Allen pertama kali memperkenalkan meja talkshow selama acara eksperimental tahun 1950-an "Tonight Starring Steve Allen", cikala bakal acara "The Tonight Show".


Meski waktu berganti, semangat tahun 1950-an dan era 60-an dalam bentuk desain set sebagian besar tetap ada. Setiap kali Anda melihat talkshow larut malam, sepertinya semua orang memulai dengan formula yang sama. Mereka hanya berpakaian berbeda.


Pelopor acara talkshow larut malam sebenarnya adalah seorang wanita, yaitu aktris Faye Emerson, yang menjadi pembawa acara wawancara dan memberikan komentar politiknya sendiri pada tahun 1949 dalam "The Faye Emerson Show," dari sofa sebuah ruang tamu. Tapi kemudian wanita diturunkan ke acara televisi siang hari, di mana pengiklan dapat menarik perhatian istri-istri yang tinggal di rumah.


Para pria mulai mengambil alih acara larut malam dan para wanita sepertinya benar-benar tidak akan pernah kembali menjadi penghuni acara larut malam. Pembawa acara wanita berikutnya yang mendapatkan acara talkshow malam hari adalah Joan Rivers pada tahun 1989, tetapi Fox menghentikan "The Joan Rivers Show" setelah dua musim. Satu dekade kemudian, Cynthia Garrett menjadi pembawa acara wanita kulit hitam pertama di acara  larut malam, tetapi acara NBC-nya ini juga dihentikan setelah satu musim.


Joan Rivers sering menjadi pembawa acara pendamping atau "sidekick" untuk Carson di "The Tonight Show," tetapi akhirnya malah bersaing dengannya lewat show di Fox-nya yang berumur pendek.


Komedian Steve Allen pertama kali memperkenalkan meja tersebut selama proses syuting "The Tonight Show". Dia pernah mencelupkan diri ke dalam tong berisi jelly dan dengan senang hati membuat pai untuk tamunya. Menurut "The Story of Late Night", penerus Allen, Jack Paar, mencetuskan format konten yang masih kita kenal hingga hari ini, yaitu : monolog, wawancara, dan pertunjukan bakat.


Tapi Johnny Carson, pembawa acara "The Tonight Show" selama lebih dari empat dekade, yang pesona "family friendly"nya menjadi identik dengan acara larut malam. Dan pertunjukannya yang sudah berjalan lama juga memperkuat hierarki yang tersirat dalam tata letak set.


Mereka yg tidak suka, menganggap meja ini kurang demokratis, kurang egaliter, jika seseorang duduk di belakang meja dalam posisi tinggi, dan tamunya tidak setara dalam hal bagaimana mereka duduk.

Tapi para kreatif beralasan meja itu justru membuat para tamu terbuka sepenuhnya.


Arsenio Hall adalah pembawa acara larut malam kulit hitam pertama yang menghapus format meja besar ini. Arsenio Hall, pada tahun 1989 memulai talkshow malamnya dengan duduk bersama tamunya di sofa dan berbincang penuh perhatian. Ini memberi kesan yang lebih "intim" dengan tamunya.


Carson, sebaliknya, dianggap memiliki jarak emosional dengan tamunya. Gagasan tentang duduk bersama dengan cara yang akrab seperti yang dilakukan Arsenio belum terpikirkan saat itu. Dan itu salah satu alasan " The Arsenio Hall Show" benar-benar memiliki kesan yang berbeda dengan talkshow malam lainnya.


"Fernwood 2 Night" karya Norman Lear dari tahun 1977, dan cucunya, "Between Two Ferns" karya Zach Galifianakis, yang ditayangkan perdana pada tahun 2008, secara langsung mengingatkan penonton pada tanaman hijau yang selalu ada di syuting Carson. Presiden Obama diundang untuk serial Funny or Die Galifianakis, yang berlangsung di set hitam sederhana dengan dua pakis hijau yang menjulang tinggi. Selama wawancaranya, Obama berkata tanpa ekspresi kepada komedian tersebut: "Ketika saya mendengar bahwa orang-orang benar-benar menonton pertunjukan ini, saya sebenarnya cukup terkejut."


Sementara itu, di "The Eric Andre Show," pertunjukan Adult Swim yang absurd yang memulai debutnya pada tahun 2012 dan berulang kali menghancurkan set-nya, menaikan level semua keanehan yang dibangun Steve Allen di acara Wild West pada larut malam.


Baru-baru ini terjadi pergeseran substansial lain dalam desain set larut malam. Berkat pandemi virus korona yang sedang berlangsung, memaksa tuan rumah acara larut malam untuk terpaku pada acara rekaman dalam jangka waktu yang lama. Mereka harus melakukannya dari rumah masing2.


Tiba-tiba saja, set talkshow itu sendiri benar-benar dirampingkan, karena orang-orang melakukannya dari rumah. Colbert mulai tayang dari bak mandi pada hari pertama syuting setelah pandemi. Saat Colbert menyesuaikan diri di bak mandi pada malam pertama untuk "The Late Show" di CBS, Meyers memposting dari rumah mertuanya untuk "Late Night" di NBC. Setelah 68 episode di sana, lukisan seorang kapten laut, yang telah menjadi "tamu" animasi sepanjang pertunjukan, mengucapkan selamat tinggal dengan sebuah pondok laut yang anggun.


Dengan cara yang aneh, pembebasan dari set studio era Carson sebenarnya, secara kreatif, hal yang baik untuk acara talkshow larut malam. Alih-alih tamu mampir ke lokasi syuting, mereka dapat menelepon dari mana saja, menggunakan latar belakang Zoom atau berbagi keintiman dari rumah mereka.


Kadang-kadang memang lebih menarik untuk berbicara dengan Arnold Schwarzenegger dari rumahnya, daripada membiarkan Arnold Schwarzenegger berjalan ke atas panggung, yang begitu dibuat-buat, sangat tidak natural. Inilah saatnya untuk sesuatu yang baru, setelah hampir tujuh dekade mengikuti formula yang sama terus menerus.


Setiap generasi membelok ke arah lain. Bagaimana mereka memandang sesuatu, cara mereka berpakaian, jenis musik yang mereka dengarkan. Jadi mengapa kita melakukan pertunjukan yang sama setiap waktu?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...