Langsung ke konten utama

Pertanyaan Pasien : Berarti Nanti Saya Langsung Datang Atau Ngantri Dulu Ya?


Dokter gigi itu menangani pasien tidak bisa sekedar colak colek, tulis resep lalu selesai. Dokter gigi butuh waktu untuk menuntaskan pelayanan satu pasien. Ini karena prosedur kedokteran gigi kebanyakan atau pada umumnya adalah tindakan. Oleh sebab itu sangat perlu manajemen waktu. Bukan hanya untuk menjamin ketenangan dokter gigi dalam bekerja, tapi juga kenyamanan pasien. Sudah sering saya baca di review tempat praktek dokter gigi lain tentang : "Datang jam 5 sore, eeeh dikerjain jam 21.00..." dan berbagai keluhan sejenis yg intinya "malas ngantri".

Ya sama. Dokter gigi pun tidak nyaman rasanya jika sudah ada pertanda pasien baru di ruang tunggu, sementara pasien di ruang tindakan masih butuh perhatian. Jadinya tidak tenang dalam bekerja. Inilah cikal bakal dari RESERVASI.

Secara umum reservasi adalah proses pemesanan layanan jasa yang dapat dilakukan oleh calon pelanggan tanpa harus bertatap muka dengan pemilik jasa dan dilakukan jauh sebelum layanan tersebut digunakan.

Proses reservasi memudahkan calon pelanggan untuk menjadwalkan waktu/kapan akan menggunakan layanan jasa tersebut dan juga memudahkan pemilik jasa untuk mengurutkan siapa saja yang akan menggunakan jasanya dalam satu hari tersebut.

Saya maklum jikalau istilah reservasi mungkin tidak dipahami oleh awam. Oleh sebab itu saya gunakan juga istilah JANJIAN ketika menyampaikan prosedur ini pada pasien. Mungkin janjian lebih dipahami oleh awam. Tapi ternyata TIDAK!!!!

Masih saja ada pertanyaan seperti judul artikel ini. Padahal seharusnya kalau sudah ada kata reservasi atau janjian, menurut saya maknanya sudah sangat amat jelas banget sekali. Misalnya anda reservasi atau janjian jam 5 sore. Maknanya menurut saya anda harus datang jam 5 sore dan si penyedia jasa juga harus tersedia jam 5 sore. Lalu darimana asal pertanyaan, ".....atau harus ngantri lagi?" 

Ketika seseorang berjanji dengan seseorang pada jam 5 sore, seharusnya kedua pihak sudah paham bahwa artinya mereka harus bertemu di jam itu, tidak ada yg menunggu lagi. Kecuali ada kendala yg tak bisa diperkirakan sebelumnya. Tapi tetap saja itu rasanya tidak masuk kategori, "....atau harus ngantri lagi?"

Ibarat orang pesan nasi goreng lalu bertanya lagi pada pelayannya, ".....nanti yg saya dapet nasi goreng kan?" Tentu saja anda akan mendapatkan apa yg anda pesan. Kecuali ada kendala yg tidak bisa diperkirakan.

Semoga setelah membaca artikel ini pasien atau siapapun yang melakukan reservasi dengan dokter atau dokter giginya atau restoran atau apapun itu jenis jasanya, bisa bertambah pemahamannya tentang konsep RESERVASI atau JANJIAN. 

Bahwa kalau anda sudah RESERVASI atau JANJIAN dengan dokternya pada jam 5 sore, tidak perlu ditanyakan lagi apakah anda harus ngantri lagi atau tidak. Karena anda sedang RESERVASI bukan menanyakan JAM MULAI PRAKTEK. 

"Tapi saya sudah dtg jam 5, ternyata msh ada pasiennya..." Kalau ini saya rasa termasuk dalam kendala yang tidak bisa diperkirakan. Bukan berarti si dokter meminta anda untuk ANTRI lagi. 

"Ya biasanya dokter Assep sih gitu, setelah reservasi, kita datang, nanti ngantri lagi..."
Itu mungkin komentar pasien yg pernah mengalami dtg dan harus menunggu. Memang sebagian besar orang di zaman sekarang juga rancu dengan istilah BIASANYA. Ketika dia ketemu anda pertama kali dan saat itu anda pakai baju kemeja rapi, tiba2 ketemu kali kedua pakai kaos oblong lgsg dibilang BIASANYA pakai kemeja, padahal baru sekali ketemu dg kemeja. Padahal istilah BIASANYA itu terkait KEBIASAAN, atau sesuatu yg dilakukan berulang. Tp pada kenyataannya banyak orang yg langsung lompat ke BIASANYA padahal baru SEKALI dilakukan.

Jadi sistem reservasi atau janjian itu tujuannya supaya pasien PASTI ketemu dengan dokternya. Kalau ditanyakan lagi, ".....apa saya ngantri lagi?" sia2 donk sistem reservasi tadi. Sama saja bertanya, "Apa gula aren itu manis?" atau, "Apakah air itu basah?". Pertanyaan yang sia2.

Semoga artikel ini bisa menjawab pertanyaan pasien soal reservasi atau janjian, dan tidak lagi muncul pertanyaan yg tidak diperlukan seperti, "Nanti saya langsung datang aja kan?"  atau "Nanti sy dtang langsung aja atau harus ngantri lagi?" 😊


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Membuat Anda Ketagihan Makan French Fries McDonald's?

French Fries Untuk membuat kentang goreng atau French Fries McDonald's, kentang segar dicuci, dikupas, dipotong, dan direbus di pabrik. Konon  juga ditambahkan bahan kimia untuk menjaga kentang tetap berwarna kuning muda (tapi itu bukan rahasia di balik rasanya yang enak).  Setelah itu, kentang yang sudah terpotong digoreng kurang dari satu menit sebelum dibekukan dan dikirim ke gerai2 McDonald's.  Di restoran, potongan kentang beku itu digoreng dengan minyak dan garam sebelum dihidangkan untuk Anda.  Itu semua terdengar cukup standar, jadi mengapa kentang mereka sangat nikmat? Semuanya berawal pada 1950-an ketika perusahaan penyedia minyak nabati McDonald's tidak mampu membeli peralatan yang dibutuhkan untuk menghidrogenasi minyak, yang akan memperpanjang keawetannya.  Jadi pemasok memilih campuran minyak dan lemak sapi sebagai gantinya. Seiring waktu, McDonald's dan kedai makanan cepat saji lainnya menjadikan lemak hewani sebagai bagian dari  rasa penggor...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...