Langsung ke konten utama

Surat Terbuka Untuk Presiden Jokowi dan Menteri Agama

 Setelah nonton Mata Najwa yang membahas dana haji, terutama menyangkut isu pembatalan penyelenggaraan haji Indonesia di tahun 2021, saya mendapatkan beberapa informasi penting.


pertama, bahwa dana haji yang disetorkan oleh jamaah disimpan oleh pemerintah.

kedua, bahwa dana haji yang disetorkan oleh jamaah DIINVESTASIKAN lagi oleh pemerintah, sama dengan apa yang dilakukan first travel dan abu tour.

ketiga, bahwa pemerintah TIDAK BISA MENJAMIN kapan pastinya jamaah akan berangkat haji, sama seperti first travel dan abu tour tidak bisa menjamin kapan jamaah akan berangkat umrah. 

keempat, bahwa biaya yang disetorkan oleh jamaah adalah besarnya biaya TAHUN INI bukan biaya SAAT BERANGKAT. Dengan demikian terdapat unsur SPEKULASI dari pemerintah yang berusaha ditutup/dilunasi dengan INVESTASI tadi.

kelima, bahwa saya selaku calon jamaah TIDAK PERNAH MEMINTA dana saya untuk DIINVESTASIKAN. Tidak pernah meminta agar ongkos haji HARUS MURAH. Tidak pernah meminta pendaftaran haji dibuka SEBANYAK2NYA.


Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari perwakilan BPKH di MATA NAJWA tersebut, saya menjadi teringat pada salah satu pegawai bank di kalimantan dulu, saat menawarkan salah satu produk investasi kepada saya. Jelas-jelas saya ingin sistem syariah. Jelas2 saya bilang obligasi. Eeeeh pegawai bank yang dungu tapi ngotot ini tetap menempatkan dana saya di REKSADANA obligasi. Ketika ditanya, dengan ngototnya si dungu ini tetap bersikukuh bahwa dia sudah menempatkan dana saya di obligasi dengan menyertakan bukti capture penempatan dana saya. Padahal jelas2 di situ tulisannya REKSADANA obligasi, yang sangat berbeda dengan pembelian OBLIGASI. Yang saya tangkap kemudian dari kengototannya adalah return investasi yang tinggi. Tanpa memikirkan KEINGINAN NASABAH.


Loh kok lari ke sana? Karena ada kemiripan dengan kasus dana haji ini. 

pertama, ketika menyetorkan dana haji, tentunya saya ingin pergi haji di tahun itu. Bukan di masa depan.

kedua, saya sangat menghargai NIAT BAIK pemerintah untuk memberikan ongkos haji SEMURAH MUNGKIN. Tapi SAYA TIDAK PERNAH MINTA. Kalau pemerintah mengungkit2 KEMURAHAN ini terus, artinya pemerintah bukan punya NIAT BAIK, tapi layaknya tukang parkir minimarket. Tidak ada yg minta dia jagain motor kita, tidak ada urgensinya karena belanja cuma sebentar dan kalau hilang pun tak diganti, tapi kalau diprotes dia beralasan demi keamanan motor kita. Niat baik yang justru kok MAKSA. Bukan BAIK lagi namanya.


ketiga, saya tidak keberatan jika pemerintah TIDAK MENSUBSIDI ongkos haji. Sehingga posisi saya lebih enak, pemerintah pun juga enak. Kalau sekarang, subsidi gak pernah diminta, tapi kitanya seolah sudah hutang budi pada pemerintah, jadinya mau protes agak canggung. Orang baik pasti saya hargai, tapi kalau orang yang bikin kita merasa rendah, hutang budi, tentunya males juga.


keempat, saya tidak keberatan jika pendaftaran haji dibuka HANYA 200 RIBU ORANG setiap tahunnya, SESUAI JUMLAH KUOTA. Atau jika mau lbh gampangnya, setiap awal tahun hijriyah, pendaftaran haji dibuka oleh pemerintah. Jadi siapa cepat dia dapat. Toh konsep ibadah dalam Islam yang saya ketahui adalah BERLOMBA. Siapa duluan, dia dapat. Apalagi sistem sekarang menzalimi saya berlipat2. Mereka yang tua, tapi daftar belakangan, malah didahulukan. Padahal shaf terdepan saja harus dikejar, bukan saling persilakan.


Akhir kata saya ingin sampaikan kepada pemerintah, bahwa kesimpulan saya dari acara MATA NAJWA adalah memang ada KEUNTUNGAN FINANSIAL yang ingin diperolah pemerintah dari dana haji ini. Kalau memang tidak, yasudah hentikan pendaftaran haji baru, mulai tahun ini. 


kemudian, Seandainya memang pemerintah berniat mensubsidi biaya haji dengan MeNGINVeSTASIKAN dana setoran haji tersebut, hentikanlah. Apalagi saya mendengar dari penjelasan perwakilan BPKH bahwa dana haji tersebut diinvestasikan salah satunya ke SAHAM. Sungguh SPEKULASI yang luar biasa berani (dalam arti buruk) untuk uang sepenting ini.  


kemudian, pemerintah mengatakan tidak berinvestasi SECARA LANGSUNG pada INFRASTRUKTUR. Tapi karena berinvestasi pada saham maka ada kemungkinan SECARA TIDAK LANGSUNG masuk ke infrastruktur juga. 


Intinya. Saya hanya minta lurus2 sajalah. Tak perlu menolong orang buntung kaki, dengan membuntungkan kaki anda. Kalau memang ongkos haji tahun ini 100 juta, umumkan saja di awal tahun hijriyah, buka pendaftaran sesuai jumlah kuota. Saya yakin akan terpenuhi kok. Ketimbang sok baik, padahal sok sial. Pemerintah bisa membantu dengan mengawasi penggunaannya saja.


Bagi jamaah yang PENGEN MURAH, yasudah, terima saja konsekuensi ini. Yang namanya spekulasi di saham, anda tahu sendiri beresiko. Semua investasi itu beresiko. Jadi kalau suatu saat TERJADI, tidak usah menyalahkan pemerintah, toh anda PENGEN MURAH.

Semoga surat terbuka ini akhirnya sampai kepada Bapak Presiden Jokowi dan bisa menghasilkan keputusan yang bijaksana. 


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masalah Itu Gara2 Ulah Manusia Sendiri

Judul artikel ini merujuk pada ayat Al Quran. Tapi kenyataannya memang demikian. Beberapa masalah yang akhir2 ini diributkan orang justru penyebabnya mereka sendiri. Maraknya begal dan pembunuhan. Lah udah disuruh hukum potong tangan, hukum mati jika si begal membunuh, dilakukan di depan umum supaya ada efek jera, eh malah ga dikerjakan. Jadilah begal2 itu residivis kambuhan. Bukannya masyarakat yang dilindungi, justru si begal yang terlindungi dari hukuman berat. Susahnya cari tanah kuburan. Lah udah dibilang sama Rasulullah kuburan seorang muslim itu cuma tanah aja, ga pake pertanda apa2, apalagi sampai dibikinin nisan+bangunan di atasnya. Tapi ya kok tetap pada ngeyel? Pembangunan tidak merata. Lah udah dibilang bikin bangunan atau rumah ga boleh menghalangi matahari ke rumah tetangga, ini malah berlomba bangun pencakar langit. Jadinya? Ya numpuk di Jakarta. Mau ngeluh banjir? Macet? Ngeyel sih. Pelecehen seksual merajalela. Lah udah diajarin syarat nikah itu suka sama ...

5 Juli

Nayla datang untuk kontrol terakhir sebelum pernikahannya. Ia mengenakan dress putih. Cantik sekali. Katanya, ia ingin senyum terbaik di hari bahagianya. “Terima kasih, Dok. Kamu selalu sabar.” Aku ingin memeluknya, atau sekadar bilang jangan pergi… Tapi aku hanya berkata, “Senyummu… sudah sempurna sejak pertama kali kamu datang, Nay.” Itu hari terakhir aku melihatnya secara langsung.

KFC atau McD atau A&W?

Sebetulnya masih banyak ayam2 lainnya. Tapi semuanya saya kerucutkan menjadi 3 merek di atas. Dari ketiganya, saya pilih A&W.  Dulu pertama kali nyoba A&W itu bareng sepupu. Pesan paket dengan rootbeer yang bikin sepupu nanya : Assep minum bir? Ya namanya rootbeer tp isinya bukan minuman haram itu. InsyaAllah ga memabukan. Kayak soda biasa aja. Maksudnya jenia minumannya. Kalau rasanya.....hmmm unik. Mungkin lantaran di booth fastfood lain sudah pakai cocacola atau pepsi yang rasanya hampir2 mirip, jadinya pas nyobain rootbeer A&W berasa beda banget.  A&W itu rasa ayamnya unik. Entah kenapa bumbunya yang beda dengan yang lain menjadikan rasa ayamnya lebih asik di lidah. Mau yg original atau pun yang hot alias lebih pedas tidak membosankan. Tapi ini berlaku di jawa saja ya. Saya trauma nyobain A&W kalimantan timur. Soalnya rasanya beda. Semua kenangan saya akan rasa A&W jadi rusak di sana. Kalau dari segi harga, memang lebih mahal dibanding yang lain. Ma...