Langsung ke konten utama

Postingan

WARISAN

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak. Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.  Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan. Kemudian saya mulai mempelajari "warisan" ini lebih dalam, ketimbang membuat tulisan tanpa dasar di media sosial. Tulisan yang memang bikin tenar, tapi cuma bermodalkan kemalasan mempelajari "warisan" saya. Mendalami "warisan" membuat saya akhirnya paham, kenapa ustadz2 bilang : nikmat iman dan Islam itu adalah luar biasa. Karena kalau saya lahir dari keluarga non muslim, belum tentu saya akan kenal dengan Islam. Satu2nya agama di dunia yang kitab sucinya tidak bisa disentuh "revisi" selama ratusan tahun, sesuai jam...

Tengilnya Oknum2 Penyembah Pancasila dan Merah Putih

Sudah berulangkali tokoh muslim maupun nonmuslim menegaskan, radikalisme bisa ditekan hanya dengan KEADILAN. Bukan bersikap tengil ala beberapa oknum penyembah Merah Putih. Islam sudah jadi diakui sebagai filosofi hidup lebih dari 1,5 milyar manusia di dunia. Pancasila baru 250 juta saja, tapi tengil oknumnya minta ampun. Islam sudah "jadi" semenjak 1400 tahun lebih. Pancasila baru 70 tahun. Tapi tengilnya oknum penyembahnya minta ampun. "Pembawa" Islam pun sudah jelas lewat para Nabi dan Rasul. Sementara Pancasila? Yang nyusun siapa, eh yang ngaku2 siapa. Eh masih tengil aja. Sudah banyak, ribuan kisah, hikmah atau kisah betapa Allah sudah menyelamatkan umat Islam eh malah dibikin Hari Kesaktian Pancasila. Tengil kan? Al Quran berani menantang : buatlah sejenisnya, silakan kalau bisa. Sesuatu yang bertahan ratusan tahun, sesuatu yang jika diambil 1 kata saja jutaan orang bisa ribut. Sesuatu yang tak direvisi ratusan tahun. UUD saja sudah hasil amandemen,...

Kalau Tuhan Tak Lagi Allah

NKRI menjadi Tuhan baru. Menjadi Trinitas dengan Merah Putih dan Pancasila. Tak boleh dihina atau diganggu. Akhirnya sumpah setia bukan lagi pada Allah. Ulama ditangkapi dengan alasan yang hanya si penyembah NKRI yang tahu apa. Bahkan meski ada kafir yang mengumumkan makar dengan terang2an, biarkan saja. Yang penting yang muslim yang dipenjarakan. "Itu tugas negara." Silakan katakan itu di depan Allah kelak di pengadilan sejati. Kita lihat bersama2 apakah alasan itu membenarkan kezaliman yang dilakukan? Allah ada jauuh sebelum NKRI, Merah Putih, atau Pancasila. Jihad jugalah yang menyebabkan NKRI bisa terbentuk. Lalu kenapa tunduk pada tugas negara dengan menghalalkan segala cara? "Buktinya saya naik pangkat, jadi kapolda, kapolri, dan jabatan tinggi lainnya." Benarkah itu kado indah dari Allah? Atau sekedar penghibur sebelum hukuman datang? Bisakah jabatan tinggi kalian menyelamatkan di akhirat kelak? Bahkan saya penasaran apakah kalian puasa atau tidak...

Provokasi Sepoi2 Ala Pejabat

Pagi ini saya mendengarkan pandangan seorang menteri, hasil dari liputan salah satu TV provokator dan terkenal anti Islam, anti demokrasi. Sudah beberapa kasus hasil liputan yang dipelintir yang saya dapati dari TV satu ini. Namun demikian, komentar si menteri rasanya memang sejalan dg salah satu pernyataan pejabat di atasnya yang liputannya waktu itu sempat saya tonton di tv lain. Saya sebut provokasi sepoi2 karena memang halus. Kalau muslim marah, gampang digebok dengan ngelesan : "kan saya ga ngomongin soal Islam? Situ aja yang sensitif." Pernyataan ini dengan menyandingkan kata "terorisme" yang disepakati semua orang tidak mengenal agama dengan "intoleran" yang berhubungan dengan agama. Ya si provokator bisa, sangat bisa ngeles bahwa "intoleran" bisa juga digunakan untuk paham, pemikiran dll. Tapi hati mereka saja yang akan mempertanggungjawabkan kelak, apa sebetulnya arah mereka. "Terorisme adalah ancaman nyata. Apalagi dengan ...

Pak Jokowi Sukses Melahirkan Terorisme Kembali

Bom Kampung Melayu menjadi saksi lahirnya terorisme baru. Semua kemudian sibuk dengan kata "deradikalisasi". Padahal mencegah terorisme itu persoalan sederhana. Karen Armstrong sudah mengungkap rahasia "keradikalan" umat Islam di beberapa negara. Akarnya cuma masalah ketidakadilan, titik. Siapa yang tidak emosi melihat reaksi Presiden terhadap kasus Ahok? Kasus yang sangat sederhana, dimana seorang publik figur dengan sombongnya dan gaya mencemooh, mengomentari kitab suci umat lain. Mending kalau dia umat agama tersebut, ini bukan. Sederhana sekali kasusnya. Lah kok malah dipelintir oleh presiden dan beberapa oknum pejabat sebagai masalah persatuan? Nenek2 gembel saja tau kalo si pelaku memang bacotnya sembarangan. Ketidakadilan yang sudah tampak ini diperparah lagi dengan penangkapan beberapa tokoh yang dekat dengan umat Islam dengan alasan yang tidak bisa dicerna oleh masyarakat awam. Ibarat kata bisul yang sudah sakit malah dipencet oleh Presiden dan kaw...