Langsung ke konten utama

Postingan

Tiba2 kepikiran soal takdir dan usaha. Penghasilan saya bulan ini alhamdulillah. Tapi di sisi lain terasa banyak masalah. Tercetus kalimat, "apa gunanya penghasilan besar ini, kalau yg lain masih begini dan begitu." Namun kebijaksanaan lain menerpa, :"bukankah itu nikmat yang diberikan Allah? Kenapa tidak disyukuri?" Saya jadi ingat kesimpulan pribadi saya perihal takdir dan usaha. Perihal kenapa sebagian orang menganggap hasil yang ia peroleh adalah takdir, bagus ataupun jelek. Sementara sebagian lain mebganggap itu akibat usahanya yang kurang, jika jelek. Tak perlu saya katakan saya di pihak mana. Menurut saya itu tidak perlu diperdebatkan, dimanapun anda berada. Kalau dikatakan oleh Al quran, maka itu betul. Meskipun anda merasa ada kontradiksi. Masalahnya sudab sering saya sebutkan, Al quran sudah menantang anda untuk membuat semisalnya. Kalau tidak bisa, kenapa anda mengatakan Al quran bohong? Maka itu saya tarik kesimpulan : anda berhak bersyukur atas ...
Maraknya kasus bunuh diri di Bandung belakangan ini, membuat banyak orang ketakutan. Apa yang membuat mereka ketakutan? Banyak yang berpikiran hal hal seperti arwah gentayangan. Betulkah ada arwah gentayangan? Sesungguhnya sistem yang Allah buat tentang kematian sungguh sempurna. Setelah ruh dicabut malaikat Maut, ruh tersebut selanjutnya akan menuju alam barzah atau alam kubur untuk mendapatkan nikmat ataupun siksa kubur sesuai amal perbuatannya di dunia. Tidak ada ruh yang tertinggal di alam dunia. Lalu bagaimana dengan arwah gentayangan yang menyerupai orang yang sudah meninggal? Biasanya itu adalah jin pendamping, yang sesat dan akan menyesatkan dan melemahkan iman manusia yang masih hidup. Bisakah jin pendamping melukai atau membunuh secara langsung manusia yang masih hidup? Tidak. Sesungguhnya, seandainya kalangan jin sesat apabila dapat membunuh manusia, mereka pasti sudah banyak membunuh manusia yang melakukan perbuatan dosa, supaya meninggal dalam keadaan ...
Saya baru baca sebuah artikel dengan kata "konflik Palestina vs Israel" di salah satu situs berita milik "anak dugem". Saya memang mengelompokan media berdasarkan 3 kelompok, yaitu : baik, anti Islam dan gaul/dugem. Media yang baik adalah media yang menyajikan berita tentang Islam secara proporsional. Tak harus membela, tapi minimal proporsional lah. Contoh paling baik adalah ILC. Mereka memberi porsi yang layak pada semua pihak untuk berbicara. Media yang anti Islam sering menampilkan berita dari sudut pandang yang menjelekan umat Islam. Citra Islam makin terpuruk. Kalau seandainya mereka punya forum seperti ILC sih asik. Ini tidak. Mereka punya sebuah talkshow yang dipandu oleh wartawati yang katanya hebat. Padahal intinya si wartawati hanya menolak semua alasan si narasumber, bukannya berhasil menggalinya. Di akhir acara pun ada adegan aneh saat si wartawati membacakan kesimpulan dari seluruh acara seenak perutnya. Padahal itu tadi, intinya dia tidak mau men...
Emang kalo mukulin ojek online penghasilan kalian otomatis bakal naik gitu? Bukannya rezeki kalian malah jadi ga berkah? Mana ada preman yang rezekinya berkah?Kasian anak istri kalian.
Masih tentang prasangka dan perasaan lebih dari orang lain. Seorang dokter atau katakanlah pengusaha junior yang baru datang di kota A langsung melejit, sukses, mendahului seniornya yang lebih dahulu mengadu peruntunga di kota A. Ketika berpapasan, si junior tak mengucapkan kata apapun, hanya melihat, tapi tak menyapa. Si senior heran : "Tidak sopannya" karena itu terjadi beberapa kali, maka itulah kesimpulannya. Mungkin sebagian kita akan memelintir dengan alasan : kenapa si senior tidak menyapa duluan? Si senior sombong. Tapi : "kenapa juga kalau junior tidak mau memulai?" Akhirnya bagai mana duluan ayam dan telur. Tapi, kembali ke urusan prasangka tadi. Benih kesombongan membumbui insiden tadi. Akibatnya :"Ya Allah, saking irinya dia pada kesuksesanku, seniorku itu sampai tidak mau menyapaku lagi." Padahal masalah yang dirasakan si senior hanya perihal kesopanan, bukan yang lain. Atau ada pengusaha yang memberikan kliennya, pelanggannya pada...
Gara2 tulisan dari salah satu teman sejawat yang terkesan menyindir teman sejawat lainnya, saya tertarik untuk menulis ini. Ada penyakit hati yang sangat unik yang dijelaskan oleh ulama. Penyakit ini tidak seperti iri, dengki, dan lain2 yang sifatnya AKTIF. Penyakit ini sifatnya PASIF. Namanya UJUB, koreksi saya kalau salah. Ujub, merasa baik. Bisa merasa lebih baik dari orang baik lainnya. Tapi yang terparah adalah menganggap orang lain jahat dan cuma dia yang baik. Ketika teman sejawatnya mendirikan praktek sendiri, dia berkomentar, di hati atau bahkan diucapkan : "Apalah maksudnya si Fulan itu, gara2 aku sukses, dia iri hahaha " Saya dan anda semua mungkin pernah merasakannya. Mamah Dedeh pun berkali2 dibuat jengkel oleh pertanyaan dari jamaahnya yang terindikasi ujub. "Dari siapa ibu tahu kalau dia iri sama ibu?" Kalimat ini berulangkali keluar dari mulut Mamah Dedeh menanggapi pertanyaan jamaahnya yang terduga ujub. Lalu bagaimana menghindari ujub? ...
*COMPETITION* vs *_COOPERATION_*      Jumat lalu, kedua anak saya menerima *Report Card* dari sekolahnya Ronald Reagan Elementary School (rapor kalau di Indonesia).      Melihat keduanya mendapat nilai-nilai yang sangat bagus. Anehnya kok tidak tercantum *info tentang rangking?*,     Saya tergoda bertanya ke salah satu gurunya...      *“Anak saya ranking berapa, Ms. Batey?”*      Dia balik bertanya, *“Kenapa Anda orang Asia selalu nanya seperti itu?”*      "Wah, salah apa saya ini....?" kata saya dalam hati.       Dia melanjutkan bicara,  *“Anda kok sangat suka sekali berkompetisi?"* katanya.      "Di level anak Anda, tidak ada rangking2an...!"      "Tidak ada kompetisi!" tambahnya.      *"Kami mengajari mereka tentang 'cooperation' alias kerjasama....!"*      "Mereka harus bisa bekerja dalam *'team work'"* ...