Langsung ke konten utama

Postingan

Nonton piala dunia jadinya teringat pada orang2 berkulit sawo matang, tidak seberapa tinggi, mata juga rada sipit, tapi protes sama Allah dengan menyebarkan kebencian pada orang Arab. Benar kata grand syaikh Al Azhar, menanggapi paparan penuh kejahilan dan kesombongan dari PAKAR islam nusantara (sebuah agama baru yg lahir di indonesia tampaknya), "Kalau Allah menganggap bangsa Indonesia lebih layak menerima wahyu, tentu mereka yg ditunjuk membawa risalah agama Islam." Piala Dunia menyadarkan saya bahwa, penganut islam nusantara, belum pernah sekalipun menembusnya. Sementara orang islam sudah berulangkali menjadi peserta. Kemudian saya perhatikan di babak penyisihan di setiap benua. Ada tim dari negara2 kecil, tidak terkenal, yg bisa menyulitkan negara2 terkenal, bahkan lolos k Piala Dunia. Ya, mungkin pakar2 olahraga penganut islam nusantara akan membantahnya. Tapi siapa bisa memungkiri bahwa fisik yg SETARA dengan BULE adalah salah satu faktor pendukung. Iya tim2 Asia...
Gw pikir manusia manapun di dunia ini bakal mentingin kesehatannya daripada apapun. Ternyata gw salah. Beberapa manusia lebih mentingin kemenangan dalam olahraga, kecantikan atau pekerjaan. Waktu di puskesmas ada pasien gw anak SMP. Datang sama nyokapnya dengan keluhan gigi geraham bawah sakit. Gw saranin ditambal. Eh si nyokap minta cabut aja. Alasannya si anak mau ikut PORSENI, nanti mengganggu dia waktu lomba. Langsung gw hipertensi, ‘Jadi pertandingan lebih penting daripada gigi anak ibu?’ Betapa rendahnya beliau memandang kenikmatan sebuah gigi asli buatan Allah. Kalau di praktek seringnya soal penampilan. Banyak pasien yang giginya rempil dikit udah minta cabut, diganti gigi palsu. Enteng banget ngomongnya, kayak makan kerupuk. Alasannya, kalau tambalan ntar lepas lagi n sakit lagi. Padahal baru rempil 10%. Pasien cabut biasanya keberatan sama kapas yang harus digigit abis pencabutan. Padahal fungsinya kan buat mengendalikan perdarahan setelah cabut gigi. K...
Kelakuan pasien yang menjengkelkan pasti ada saja. Hal paling sering adalah ketika sampai di pertanyaan : 'sejak kapan sakitnya pak?' Wah, sudah lama dok. 'Iya berapa lama pak?' Lama betul dok. Waktu itu begini blablabla.... 'Berapa lama itu pak?' 5 tahun dok. Masih untung yg jawab tahunan. Kadang yg dimaksud lama itu baru 1 bulan. Pengen nabok rasanya biar otak si pasien bisa muter lebih cepat dan mengungkapkan lama sakitnya. Ada lagi pasien yg suka ngatur. 'Ini nanti suntiknya 1 ampul saja y dok.' Kata seorang pasien yg minta dicabut giginya. Iya pak, jadi ga boleh lebih dari 1 ampul ya?
Orang beragama itu merusak bahasa. Mohon maaf dengan judulnya. Tetapi maksud saya orang2 yg menganut agama tertentu punya kultur yg membuat tata bahasa Indonesia terpengaruh, dalam arti buruk. Orang Islam menyumbang kesalahan dalam bentuk huruf2 atau suku kata unik. Saya sendiri baru tahu kalau tidak boleh ada sh pada kata shalat, dz pada dzikir, ts pada tsanawiyah dan mungkin ada kata lainnya. Sementara orang non muslim menyumbang kerusakan dalam kesalahan pemberian imbuhan. Mana ada kata BERTUMBUH yang ada itu TUMBUH. Mana ada kata KEBANGUNAN, yang ada itu KEBANGKITAN. 
Nasionalisme ala anak2 dugem dan alay. Ribut2 soal salah satu ormas yg tidak mau mencantumkan Pancasila sebagai dasarnya mencuatkan kata NASIONALISME. Demikian pula dengan pola penampilan beberapa orang Indonesia yg dibilang kearab2an. Anak2 dugem dan alay berikut cabe2an kemudian protes : 'Itu tidak nasionalis! Akhirnya ngaji pun diubah menjadi berirama 'indonesia', persis menyerempet kebijakan Atta Turk di Turki dulu yg mengubah azan k dalam bahasa Turki. Alhamdulillah Indonesia selamat karena kasih sayang Allah dan irama 'indonesia' itu gagal menyesatkan umat. Tapi media sosial yg diisi anak dugem, alay dan cabe2an terus saja meneriakan nasionalisme. Padahal rusaknya isi otak mereka tidak akan bisa memahami kata2 seberat NASIONALISME. Hal ini terbukti ketika mereka santai saja menanggapi salah satu artis Indonesia yg pindah kewarganegaraan menjadi warga Perancis. Malah memuja2nya. Padahal kalau memang mereka paham NASIONALISME, pastilah menganggap meng...
Semua kerusakan di muka bumi karena tangan manusia sendiri. Itu yg tertulis dalam Al quran. Tapi ternyata kerusakan atau kesusahan dalam hidup manusia juga disebabkan tangan atau kelakuan mereka sendiri. Yg paling hangat, ojek online. Bukankah asalnya angkot yg sering ngetem dan tidak aman? Bukankah gara2 ojek pangkalan berisi orang2 angkuh yg tidak mau menjemput pelanggan dan bertarif mahal? Menjamurnya pasar swalayan dan minimarket. Bukankah karena kesombongan toko2 tradisional untuk tidak membersihkan dan merapikan tokonya? Bukankah karena toko tradisional lah yg biasanya jadi sarang pengoplosan atau produk palsu? Berhentilah menyalahkan orang lain sebelum mrmperbaiki diri sendiri. Larangan rokok. Bukankah gara2 perokok tidak menahan dirinya untuk MENGEPULKAN asap ke arah manusia lainnya dengan angkuhnya?
kirimkan 1 jenis makanan ringan favorit anda (syarat & ketentuan berlaku) berikut ulasannya beserta data diri lengkap ke alamat : Dokter Gigi Assep, Apotek Sangkakala, Jl. Durian 2, Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur. Sebelum 1 Desember 2017. Ulasan terbaik akan mendapatkan uang tunai 1 juta rupiah. Persyaratan : Makanan halal Kering Belum kadaluarsa Kemasan masih rapi dan tertutup rapat