Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Islam itu Rahmat Bagi Sekalian Alam

Hari ini salah satu umat beragama melaksanakan Hari Raya. Sebuah perayaan keagamaan yang seharusnya membawa kedamaian, tidak mengganggu orang lain. Tapi kenyataannya? Toleransi selalu dijadikan dalih pamungkas oleh mereka untuk mengganggu umat beragama lain. Mereka melarang umat lain yg jelas tak merayakan untuk ikut berdiam diri, ritual ibadah yg mereka lakukan hari itu. Dengan kata lain mereka memaksa. Ya, luar biasa sekali "toleransi" mereka. Bahkan sampai patroli segala untuk mengintimidasi umat beragama lain yg tidak mengikuti ritual mereka. Sebagian muslim akhirnya terjebak, dan malah ikut2an waktu ramadhan tiba. Muslim ikut2an merazia mereka yg tidak puasa. Padahal islam rahmat bagi sekalian alam. Agama yg diturunkan Allah. Bukan rekaan akal seperti umat zalim yg "pemaksa" tadi. Semua org yg non muslim bebas untuk tidak puasa. Justru kita muslim yg harus sabar menghadapinya karena sedang berpuasa. Jadi jika umat agama "jahat" itu melakukan pe...

Belum Menikah Karena Gangguan Jin?

judul tulisan ini berdasarkan artikel yg dikirim oleh salah satu teman grup sosmed saya. Kenapa ngebahas itu? Ya banyak orang yg belum menikah saat ini. Bukan saja di Indonesia. Di Saudi sana, negara asal Rasulullah saja pemuda menderita karena......gangguan jin? Bukan. Gara2 permintaan mahar yang jumlahnya bikin Sadako aja kaget. Jadi jomblo bukan gara2 jin? Percaya pada yg gaib adalah salah satu prinsip penting dalam Islam. Tapi syukur dan sabar, tawakal pada Allah justru tak kalah penting. Jadi, ketimbang berfikir bahwa jin lebih kuat daripada takdir Allah, bukankah lebih baik berfikir bahwa semua itu ujian yg harus ditempuh dengan sabar? Tapi si fulan memang aneh ga mau nikah, padahal udah kepala 3. Memangnya anda berani bersumpah demi Allah bahwa dia "GAK MAU" nikah. Soalnya beda lho maknanya antara "GAK MAU" atau "BELUM". Kenapa anda tega berprasangka buruk pada takdir org itu yg blm juga diberi jodoh oleh Allah? Tapi dia ga pernah usaha....

Partai Politik atau Penonton Bayaran?

Beberapa waktu yg lalu saya dengar partai politik minta dana bantuan pemerintah untuk partai dinaikan. Alasannya ini itu. Tapi haruskah? Kenyataannya partai yang diharapkan mengkader orang malah lebih sering main comot kalau ada orang bagus yang bukan kader partainya. Beberapa partai "bagus" pun yang awalnya mengkader, belakangan mulai ikut2an "beli jadi". Tapi syukurlah tidak seperti PKI Perjuangan yang mengemis2 pada salah satu tokoh untuk dijadikan calon, padahal awalnya tokoh tersebut sudah sempat mengeluarkan statement yang bernada "anti parpol". Partai dengan sumbangan besar dari pemerintah saat ini, dengan dalih pendidikan politik masyarakat, sejatinya tak lebih dari penonton alay bayaran di acara2 tv. Betapa tidak, mereka hanya bertugas menghebohkan "tayangan" pemilu atau pilkada. Sementara itu kader yang dijanjikan tidak pernah muncul ke hadapan. Kalau kader yang pintar ngomong banyak. Tapi kader yang betul2 muncul jadi pemimpin dam...

Earth Hour dan Tong Kosong

Earth hour dg kegiatan populernya yaitu mematikan lampu dan alat listrik selama 1 jam memang ngetren. Saya gunakan kata ngetren karena memang sekadar tren saja. Toh kami yang tinggal di luar Indonesia (maksudnya luar Jawa) sudah terbiasa dg pemadaman bahkan lebih dari 1 jam. Jadi buat kami suplai listrik yg memadai justru adalah masalah utama. Bukan soal merasakan hidup tanpa listrik hanya 1 jam. Tapi ya artis2 Tong Kosong tentu saja ingin mengikuti tren ini karena memang akan terkesan eksis dan high class, international class. Padahal kalau ditanya soal lingkungan, wawasannya ga akan lewat dari jaga kebersihan dan penghematan. Ibarat kata, mereka mengkampanyekan puasa pada masyarakat miskin Afrika. Alangkah baiknya jika mereka mengkampanyekan pembangunan pembangkit listrik di luar Indonesia (luar Jawa). Mungkin akan lebih "jelas" daripada sekedar jadi Tong Kosong demi tren alias ikut2an.

Ateis

Banyak orang mengaku percaya Allah, tapi nyatanya tidak. Akibatnya berbuat sekehendak hati lalu jika diingatkan jawabnya : memangnya orang di Arab sana lebih baik dari kita? Tidak percaya kalau rezeki itu jaminan Allah, akhirnya ngamuk pada ojek online. Iri dengki memenuhi jiwa padahal bukan ojek online yang mengambil rezeki mereka. Padahal warga benci "ngetem" tapi karena ateis yang disimpulkan justru benci angkot. Merasa rugi kalau jalan terus dan ngotot "penuh baru berangkat". Siapa penumpang yang akan tahan. Padahal kan penumpang kadang nunggu di pinggir jalan, bukan di terminal. Tidak percaya pada jaminan Allah akhirnya menetapkan aturan ini itu yang sebetulnya mempersulit ekonomi masyarakat. Pajak ini dan itu. Mana ada investor yang mau masuk kalau dipalakin terus menerus. Bukankah singapura menjadi makmur karena bebas pajak dulu? Batam? Tidak percaya pada Allah akhirnya memberi subsidi ini dan itu pada masyarakat. Akhirnya defisit anggaran. Pusing send...

Tukang Bid'ah

Seorang ulama di Youtube mengeluarkan kata2 "suka membid'ah2kan orang" untuk merujuk pada salah satu kelompok Islam. Saya lalu terpikir : kenapa? Setelah menonton beberapa video yang ada kata "bid'ah"nya saya heran. Tidak ada kelompok islam yang menuduh kelompok lain melakukan bid'ah. Yang ada beberapa ulama yang MEMBUKTIKAN bahwa beberapa ibadah yang dilakukan oleh kelompok lain tergolong bid'ah. Sementara "ulama bid'ah" tidak pernah berniat membuktikan bahwa mereka tidak melakukan bid'ah. Adanya hanya melakukan counter dengan menuduh pihak anti bid'ah sebagai "suka membid'ah2kan orang" untuk mengesankan ulama anti bid'ah sebagai pihak yg jahat, minimal ceroboh dengan menyematkan kata "suka" tadi. Dengan kata lain, mereka memang tidak punya dalil keislaman untuk membela ibadah rekaan yang mereka jalani. Inilah yg merusak Islam. Ketika si salah tidak mau dibilang salah, tapi juga tidak bisa mem...

Mati Demi Berhala

Ada begitu banyak berita yang muncul di media massa. Ada yang mati karena membela NKRI, si oknum tentara/polisi berniat menculik, menyiksa, bahkan membunuh seorang aktivis mahasiswa atau buruh. Alasannya karena "taat pada perintah atasan", "demi NKRI", "demi Merah Putih". Ada tentara yang begitu emosi ketika korpsnya dihina. Teman saya yang PNS langsung naik pitam waktu saya membuat status tentang oknum di pulau saya (yg jelas beda pulau dengannya) . Ada lagi siswa yang rela mati demi membela sekolahnya saat tawuran. Ada lagi geng motor yang gagah berani melawan geng lawan saat dihina. Tapi kenapa kehilangan nyali ketika Al quran dihina? Padahal Merah Putih, NKRI, sekolah, geng, tidak sanggup memberikan rezeki bahkan satu helaan nafas pun. Al quran diturunkan oleh Allah, tapi kenapa malah gamang untuk bertindak ketika ia dihina? Bukankah kematian karena membelanya lebih layak ketimbang membela berhala bernama NKRI, Merah Putih, korps, geng dan sej...