Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

WARISAN

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak. Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan.  Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan. Kemudian saya mulai mempelajari "warisan" ini lebih dalam, ketimbang membuat tulisan tanpa dasar di media sosial. Tulisan yang memang bikin tenar, tapi cuma bermodalkan kemalasan mempelajari "warisan" saya. Mendalami "warisan" membuat saya akhirnya paham, kenapa ustadz2 bilang : nikmat iman dan Islam itu adalah luar biasa. Karena kalau saya lahir dari keluarga non muslim, belum tentu saya akan kenal dengan Islam. Satu2nya agama di dunia yang kitab sucinya tidak bisa disentuh "revisi" selama ratusan tahun, sesuai jam...

Tengilnya Oknum2 Penyembah Pancasila dan Merah Putih

Sudah berulangkali tokoh muslim maupun nonmuslim menegaskan, radikalisme bisa ditekan hanya dengan KEADILAN. Bukan bersikap tengil ala beberapa oknum penyembah Merah Putih. Islam sudah jadi diakui sebagai filosofi hidup lebih dari 1,5 milyar manusia di dunia. Pancasila baru 250 juta saja, tapi tengil oknumnya minta ampun. Islam sudah "jadi" semenjak 1400 tahun lebih. Pancasila baru 70 tahun. Tapi tengilnya oknum penyembahnya minta ampun. "Pembawa" Islam pun sudah jelas lewat para Nabi dan Rasul. Sementara Pancasila? Yang nyusun siapa, eh yang ngaku2 siapa. Eh masih tengil aja. Sudah banyak, ribuan kisah, hikmah atau kisah betapa Allah sudah menyelamatkan umat Islam eh malah dibikin Hari Kesaktian Pancasila. Tengil kan? Al Quran berani menantang : buatlah sejenisnya, silakan kalau bisa. Sesuatu yang bertahan ratusan tahun, sesuatu yang jika diambil 1 kata saja jutaan orang bisa ribut. Sesuatu yang tak direvisi ratusan tahun. UUD saja sudah hasil amandemen,...

Kalau Tuhan Tak Lagi Allah

NKRI menjadi Tuhan baru. Menjadi Trinitas dengan Merah Putih dan Pancasila. Tak boleh dihina atau diganggu. Akhirnya sumpah setia bukan lagi pada Allah. Ulama ditangkapi dengan alasan yang hanya si penyembah NKRI yang tahu apa. Bahkan meski ada kafir yang mengumumkan makar dengan terang2an, biarkan saja. Yang penting yang muslim yang dipenjarakan. "Itu tugas negara." Silakan katakan itu di depan Allah kelak di pengadilan sejati. Kita lihat bersama2 apakah alasan itu membenarkan kezaliman yang dilakukan? Allah ada jauuh sebelum NKRI, Merah Putih, atau Pancasila. Jihad jugalah yang menyebabkan NKRI bisa terbentuk. Lalu kenapa tunduk pada tugas negara dengan menghalalkan segala cara? "Buktinya saya naik pangkat, jadi kapolda, kapolri, dan jabatan tinggi lainnya." Benarkah itu kado indah dari Allah? Atau sekedar penghibur sebelum hukuman datang? Bisakah jabatan tinggi kalian menyelamatkan di akhirat kelak? Bahkan saya penasaran apakah kalian puasa atau tidak...

Provokasi Sepoi2 Ala Pejabat

Pagi ini saya mendengarkan pandangan seorang menteri, hasil dari liputan salah satu TV provokator dan terkenal anti Islam, anti demokrasi. Sudah beberapa kasus hasil liputan yang dipelintir yang saya dapati dari TV satu ini. Namun demikian, komentar si menteri rasanya memang sejalan dg salah satu pernyataan pejabat di atasnya yang liputannya waktu itu sempat saya tonton di tv lain. Saya sebut provokasi sepoi2 karena memang halus. Kalau muslim marah, gampang digebok dengan ngelesan : "kan saya ga ngomongin soal Islam? Situ aja yang sensitif." Pernyataan ini dengan menyandingkan kata "terorisme" yang disepakati semua orang tidak mengenal agama dengan "intoleran" yang berhubungan dengan agama. Ya si provokator bisa, sangat bisa ngeles bahwa "intoleran" bisa juga digunakan untuk paham, pemikiran dll. Tapi hati mereka saja yang akan mempertanggungjawabkan kelak, apa sebetulnya arah mereka. "Terorisme adalah ancaman nyata. Apalagi dengan ...

Pak Jokowi Sukses Melahirkan Terorisme Kembali

Bom Kampung Melayu menjadi saksi lahirnya terorisme baru. Semua kemudian sibuk dengan kata "deradikalisasi". Padahal mencegah terorisme itu persoalan sederhana. Karen Armstrong sudah mengungkap rahasia "keradikalan" umat Islam di beberapa negara. Akarnya cuma masalah ketidakadilan, titik. Siapa yang tidak emosi melihat reaksi Presiden terhadap kasus Ahok? Kasus yang sangat sederhana, dimana seorang publik figur dengan sombongnya dan gaya mencemooh, mengomentari kitab suci umat lain. Mending kalau dia umat agama tersebut, ini bukan. Sederhana sekali kasusnya. Lah kok malah dipelintir oleh presiden dan beberapa oknum pejabat sebagai masalah persatuan? Nenek2 gembel saja tau kalo si pelaku memang bacotnya sembarangan. Ketidakadilan yang sudah tampak ini diperparah lagi dengan penangkapan beberapa tokoh yang dekat dengan umat Islam dengan alasan yang tidak bisa dicerna oleh masyarakat awam. Ibarat kata bisul yang sudah sakit malah dipencet oleh Presiden dan kaw...

Islam Indonesia itu Baik, Damai

Pujian terhadap jamaah haji atau umrah Indonesia sudah sering saya dengar. Maka saat saya umrah penasaran juga. Betulkah jamaah Indonesia baik2? Gampang diatur? Kesimpulan yang saya dapat : 1. Muslim Indonesia paling gampang diatur. Benar 2. Muslim Indonesia baik2. Benar. Tapi...... Penyebabnya.... Muslim Indonesia gampang diatur karena postur rata2 kecil dan takut berdebat. Muslim Indonesia baik2 karena ketakutan. Takut kalau dibeginikan, dibegitukan kalau berbuat salah. Tidak punya percaya diri untuk bertindak berbeda. Siasat ini juga yang digunakan Belanda waktu menghadapi kuatnya semangat jihad di Aceh. Dengan memuji2, menganggap Islam tidak boleh berbuat keras. Bahkan memukul pun dianggap nista untuk orang Islam. Perlahan orang Islam tidak lagi berani bertindak. Sibuk ibadah tanpa berperang melawan penjajahan. Saat nonton berita di TV rupanya siasat itu masih laku zaman sekarang. Kalau umat Islam berpolitik dianggap hina, kotor. Dan akhirnya mereka menari2 di puncak ...
Waktu ditanya soal kenapa Kejaksaan juga banding dalam kasus Ahok, jawabannya cepat : "Karena Ahok banding, otomatis kejaksaan banding." Ketika ditanya tanggapan mengenai batalnya banding Ahok, jawabannya : "Kami AKAN KAJI dulu." Ternyata OTOMATIS itu hilang begitu saja.
Kalau kampus tidak boleh berpolitik, berarti Pak Menteriy harus menjamin6 peristiwa 1966 dan 1998 yang digerakan oleh mahasiswa tidak terulang kembali. Jangan mau enaknya sendiri, dunianya tak mau dimasuki, tapi malah memasuki dunia politik.

DONASI! DONASI!

Gara2 kasus Cak Budi yang sempat heboh saya jadi tertarik buat ngajak temen2 untuk donasi membantu sesama. Silakan transfer bantuan atau donasi ke rek. BCA an. Assep Purna Mulyanto di 7770940154. Dan konfirmasi via 081320111681. Visi saya "Menjadi program donasi paling terpercaya dan sukses di Indonesia" Misi : 1. Membantu sesama muslim yang membutuhkan bantuan ekonomi. 2. Mengadakan kajian keislaman yang meningkatkan pengetahuan dan keimanan sesama muslim. Setiap bantuan akan disalurkan sesuai tuntunan agama Islam. Tapi mengingat tafsiran yang berbeda2, maka tafsiran saya pribadilah yang akan digunakan. Jika anda tidak berkenan, silakan jangan berikan donasi anda kepada rekening di atas. Ayo kita sama2 membantu umat agar mandiri dari tekanan ekonomi kaum kafir.

Toleransi Bukan Cuma Buat Kafir atau Cina

Tapi terutama kepada saudara seagama. Sebentar lagi Ramadhan. Seorang ulama yang mengaku mengikuti hadits dan Al Quran mengeluarkan pernyataan tentang penentuan awal Ramadhan. "Kata haditsnya liat bulan, ya berarti liat bulan. Mau gimana lagi, jangan diubah2." Sekilas tendensinya mengkritik mereka yang mengandalkan astronomi dalam penentuan Ramadhan. Padahal selama ini beliau mengikuti azan yang berdasarkan perhitungan astronomi semata. Padahal lagi, jelas2 waktu shalat juga ditentukan oleh hadits dengan melihat tanda2 alam. Kenapa beliau tidak protes? Padahal shalat adalah ibadah yang amat penting, karena tidak ada toleransi seperti ibadah lainnya. Bahkan hanya kematian yang menggugurkan krwajiban shalat seorang hamba. Tulisan ini bukan untuk mengadu domba. Hanya sekedar membuka wacana. Bahwa kalau memang ingin mengikuti salah satu kaedah dalam penentuan ritual agama, maka kaffah lah. Jangan setengah2. Kalau memang puasa ditentukan dengan melihat bulan. Sesuai hadit...

Yang Namanya Amal Itu Kayak Gini Lho Koh!

Penyembah Ahok pada masa kampanye dulu menuduh setiap muslim adalah koruptor, padahal nyatanya etnis yang korupsinya terbesar, bahkan sampai kabur ke luar negeri itu....you know lah. Agama yang suka korup? Ya silakan buka data kpk, nanti juga malu sendiri penyembah2 Ahok. Sempat juga penyembah Ahok membanggakan diri dan agamanya lewat "memaafkan" pembunuh, tapi "proses hukum harus tetap berjalan". Alias si pembunuh anaknya harus dihukum. Sudah kesana kemari petantang petenteng di talkshow dan acara tv membanggakan agamanya eh ternyata....ya gitu deh. Padahal seorang muslim di Timur Tengah sana memaafkan pembunuh anaknya sehingga proses hukum selesai dan si pembunuh tidak dihukum apa2. Gitu yang namanya maafin coy. Sempat juga penyembah ahok membanggakan seorang dokter yang petantang petenteng hilir mudik di acata tv. Dokter yang katanya "beramal" eh ternyata justru "diendorse" alias disponsori oleh yayasan agamanya. Siapa juga dokter yang g...

Intimidasi HTI?

Rupanya saya mulai paham apa maksud "intimidasi" versi hamba Ahok. Penjahat, kriminal, akan stres ketika ada polisi di dekatnya. Meski si polisi hanya sekedar lewat. Cerita lain waktu seorang bapak di kota saya ngomel2 karena ada bapak lain yang sedang ngaji saat sama2 menunggu nasi goreng pesanan. Itu rupanya yang sedang dirasakan oleh masyarakat Jakarta terhadap FPI atau Habib Riziq. Bahkan artis2 juga ketakutan. Padahal kalau ditanyai, sekalipun mereka tidak pernah bersinggungan dengan FPI. Sebagaimana keterangan Rasulullah SAW, "dosa itu yang bikin hati gak tenang". Akhirnya HTI ditakuti, FPI dimusuhi. Padahal apa yang selama ini mereka lakukan justru membuat anda lebih nyaman. Tapi anda justru kebakaran jenggot, saking banyaknya aib dosa yang ingin anda sembunyikan.