Langsung ke konten utama

Postingan

Pandemi Menyadarkan Para Feminis

Kata ekonomi berasal dari bahasa Yunani oikos, yang berarti rumah, tapi para ekonom tak pernah membahas apa yang sesungguhnya terjadi di dalam rumah. Apa yang disebut work from home di seluruh dunia sejak pandemi Covid-19 selama ini hanyalah dianggap ejekan, perendahan, pengabaian, penghinaan, bahkan ketidakadilan ekonomi terhadap apa pun yang dikerjakan perempuan di rumah. Merawat (manusia, tumbuhan, hewan), mengasuh manusia, memasak makanan, mencuci benda-benda, menyenangkan manusia, atau pokoknya apa pun yang dikerjakan di rumah, yang banyak dilakukan perempuan dari bangun tidur di pagi hari sampai tidur lagi di malam hari, tidak boleh diakui sebagai bekerja. Dan sebab itu terlarang mendapat upah/gaji yang maksimal sepantasnya. Bukan hanya itu dampaknya. Tetapi juga menyeret banyak wanita2 rapuh untuk turut membenci pekerjaan domestik ini dan mencap dirinya sendiri sebagai feminis.  Tentu saja tidak ada contoh yang lebih ironis bahkan tragis daripada seorang perempuan bernama Ma...

Indonesia Resesi? Lo Aja Kelees

Baru baca tulisan salah satu judul video tv berita nasional di youtube soal Indonesia mendekati jurang resesi. Lalu saya teringat dulu tinggal di salah satu kampung di kalimantan. Orang2nya kalau ingin gorengan tinggal nyabut singkong di halaman rumah. Kalau ingin sayuran, juga nyabut di sekitar rumah. Buah pun demikian, petik di depan rumah. Orang2 ini rasanya tidak sesuai dengan kata2 resesi. Mereka punya cadangan pangan yang tak tergerus oleh nilai rupiah atau neraca impor. Yang bakal kena resesi adalah mereka yang mati2an menjaga harga hasil tani dan ternak di angka serendah mungkin, supaya mereka tetap bisa pulang kampung sambil petantang petenteng di hadapan petani sebagai ORANG KANTORAN.  Yang bakal kena resesi itu adalah mereka yang jijik mengolah tanah di kampungnya dan memilih menjadi ORANG KANTORAN meninggalkan kampung halaman. Yang bakal kena resesi adalah mereka yang muncul di TV kemudian merasa sanggup untuk membeli rumah mewah dengan cicilan ratusan juta per bulan....

Negara Bingung

Makin lama makin bingung dengan arah negara bingung ini. Waktu covid 19 merebak semua orang diminta di rumah saja, tapi dia malah ribut soal empati kepada pekerja informal alias pedagang jalanan yang harus keluar rumah untuk mendapatkan rezeki. Jadi sebetulnya nyuruh di rumah saja, atau nyuruh keluar untuk membeli dagangan si penjual? Waktu covid 19 merebak, semua orang jangan panik. Semua harus santai bae. Tapi waktu orang2 santai dan bahkan sampai menganggap covid19 sebagai hoax, dia malah kelabakan sendiri. Jadi sebetulnya masyarakat harus santai atau panik? Waktu krisis moneter, dilahirkanlah produk baru berupa LPS. Lembaga Penjamin Simpanan. Supaya masyarakat tidak takut menyimpan uang di bank. Tapi di sisi lain, dia berharap masyarakat dan milenial untuk menjadi entrepreneur, wirausahawan. Mana mungkin orang yang bisa nyimpan uang di bank dengan jaminan tidak akan gimana2, disuruh ngeluarin uang untuk kerja keras membangun usaha. Kan mending dia hidup dari makan bunga? Jadi sebet...

"Saya hebat, sudah pernah merasakan muda. Tapi kamu apa bisa sampai tua seperti saya?"

"Saya hebat, sudah pernah merasakan muda. Tapi kamu apa bisa sampai tua seperti saya?" Sombong orang2tua jaman now.  Cobalah mendengarkan itu dari mulut seorang jompo yang renta. Lalu apa yang muncul di fikiranmu? Seorang supir bekas orang kaya yang mengendari xenia, lalu berhenti di depan pengendara Lamborghini Aventador dan menyombong : "Saya sudah pernah naik Lambo, tapi apa kamu pernah naik xenia?". Masuk gak perbandingan si bekas orang tajir barusan? Iya, jauuuuuuh. Ga nyampe. Yang satu bekas orang kaya sekarang miskin. Yang satunya masih kaya raya.  Si bekas orang kaya menyombongkan sesuatu yang tidak bisa dia sombongkan.  Begitulah rasanya kalau mendengar orang yang sudah berumur, dan merasa ketuaannya sebagai kelebihan. Konyooool

Mudahnya Alay, Anak Dugem dan Cabe2an Termakan Isu

Ada tokoh alay yang menulis bahwa bantuan yg diberikan saat PSBB adalah junk food. Kemudian tulisan itu diberi ilustrasi, entah oleh si empunya pendapat, atau si empunya kanal berita, sebungkus mie instan. Junk food, kalau diterjemahkan menjadi makanan sampah. Sebetulnya sebuah hinaan terhadap makanan. Jadi tak perlu jauh2, sebagai muslim anda seharusnya sudah menghindari menjuluki makanan sebagai junk food. Meskipun seorang dokter yang "islami" terus menggunakan istilah ini dalam ceramahnya.  Tapi kemudian saya tidak ingin berhenti di situ. Setelah saya perhatikan, mereka di Amerika sana, yang sering mengeluarkan istilah junkfood adalah para orang ternama, baik di bidang kuliner maupun bidang lain.  Sebagian tokoh publik kemudian mengatakan bahwa junk food itu dinamakan begitu karena tidak sehat dan begini dan begitu. Lalu kita alihkan pandangan pada kata "makanan sehat". Siapa sih yang sering ceramah dan menggunakan istilah "makanan sehat" ini? Mereka ar...

Ulama Tolak Rapid Test Untuk Kiai dan Santri?

Pas baca judul beritanya langsung ingat kampret. Ingat juga bapak2 yang ngamuk2 di razia PSBB dengan membawa2 Allah dan kemudian dibela oleh ratusan orang yang mengaku muslim.  Ya muslim Indonesia itu mungkin mayoritas. Tapi mayoritasnya juga tidak paham tentang Islam. Asal bawa nama Allah, ulama, habib atau segala sesuatu yang berbau Islam, akan dibela mati2an. Rasanya menarik untuk menunggu kasus baru ini. Apa kira2 alasan ulama menolak rapid test ini. Kalau alasannya diskriminasi, toh semua orang juga dirapid test. Bahkan ada jamaat satu gereja dirapid test.  Capek rasanya melihat oknum seperti ini merusak Islam. Sekedar bawa2 atribut agama, kemudian melakukan hal2 yang tidak sejalan dengan agama. Betul juga, musuh Pancasila itu adalah orang dungu yang beragama. Karena kedunguannya, dia jadi seperti babi yang lari ke sana kemari menghantam segala benda.

Kasus Bintang Emon

Mungkin kasus Novel Baswedan dan fitnah terhadap Bintang Emon bisa dialihkan fokusnya pada jaksa penuntut umum. Bukan. Bukan pada betapa terdengar anehnya tuntutan yang disampaikan. Tapi pada kenapa tuntutan itu muncul. Sepertinya tekanan bagi pekerjaan penegak hukum itu memang berat. Pasti jaksa menghadapi tekanan yang sangat besar sampai dia bisa menyampaikan tuntutan yang bagi orang awam pun terdengar konyol. Semoga jaksa bisa mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya. Dan semoga mereka yang menekan jaksa juga mendapatkan balasan yang setimpal atas perbuatannya. Dan dia yang memerintahkan penganiayaan terhadap Novel Baswedan mendapat balasan yang setimpal. Untuk jaksa. Semoga di hari tuanya kelak menjadi rabun dan terkena parkinson. Jika memang dia melakukan kesalahan disengaja dalam kasus ini. Mereka yang menekan jaksa, semoga menjadi lumpuh tangan dan kakinya, sampai hanya bisa duduk di kursi roda. Dia yang menjadi otak penyerangan pak Novel Baswedan, mudah2an menderita ...