Di sebuah nagari sejuk di kaki Gunung Marapi, hiduplah seorang gadis bernama Layla, anak tunggal dari seorang penghulu suku Caniago yang terpandang. Ia cerdas, pandai menari, dan gemar bersyair. Parasnya menyejukkan mata, seperti embun pagi di sawah yang baru ditanam. Di sisi lain nagari, tinggallah Marjohan, anak yatim dari keluarga sederhana. Ibunya berjualan lamang, sedangkan ayahnya telah lama wafat di rantau. Marjohan pandai menulis syair dan sering membantu di surau. Mereka bertemu di pentas randai saat SMA, saat Layla menjadi penari utama dan Marjohan membacakan syair pembuka. Sejak saat itu, cinta tumbuh dalam diam. Mereka sering bertukar pantun lewat buku catatan. Di balik lembar-lembar puisi itu, tumbuh harapan: bahwa kelak mereka bisa bersatu. Tapi di tanah Minang, adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Cinta harus sejalan dengan restu mamak dan martabat suku. Ketika Marjohan memberanikan diri mengirim utusan ke rumah Layla, mamak Layla menolak mentah-mentah. > “...
Namaku Cinta. Aku pikir aku tahu banyak tentang cinta. Kata-kata adalah duniaku, puisiku berbicara lebih lantang dari suara. Tapi tidak ada puisi yang bisa mempersiapkanku untuk jatuh cinta kepada seseorang seperti Rangga. Rangga adalah sunyi yang hangat. Ia seperti buku tua di rak perpustakaan—tak menarik di mata banyak orang, tapi menyimpan dunia di dalamnya. Ia membuatku ingin diam, dan mendengar. Namun waktu tak pernah bersahabat. Saat aku mulai yakin akan perasaan ini, dia harus pergi. Ke New York. Mengikuti ayahnya yang kembali diberi kesempatan hidup baru. Kami bertengkar. Aku terluka. Tapi aku sadar, aku tak bisa membiarkannya pergi tanpa mengatakannya. Aku mengejarnya ke bandara. Nafasku sesak. Tapi aku sampai, tepat sebelum dia masuk ke ruang keberangkatan. Dia berdiri di kejauhan, mengenakan jaket abu-abu dan ransel yang besar. Aku memanggil namanya—pelan tapi pasti. Ia menoleh. Tatapan itu... penuh kenangan yang belum sempat dibuat. Kami berdiri berjauhan. Mungkin tiga atau...