Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

Layla & Marjohan

Di sebuah nagari sejuk di kaki Gunung Marapi, hiduplah seorang gadis bernama Layla, anak tunggal dari seorang penghulu suku Caniago yang terpandang. Ia cerdas, pandai menari, dan gemar bersyair. Parasnya menyejukkan mata, seperti embun pagi di sawah yang baru ditanam. Di sisi lain nagari, tinggallah Marjohan, anak yatim dari keluarga sederhana. Ibunya berjualan lamang, sedangkan ayahnya telah lama wafat di rantau. Marjohan pandai menulis syair dan sering membantu di surau. Mereka bertemu di pentas randai saat SMA, saat Layla menjadi penari utama dan Marjohan membacakan syair pembuka. Sejak saat itu, cinta tumbuh dalam diam. Mereka sering bertukar pantun lewat buku catatan. Di balik lembar-lembar puisi itu, tumbuh harapan: bahwa kelak mereka bisa bersatu. Tapi di tanah Minang, adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. Cinta harus sejalan dengan restu mamak dan martabat suku. Ketika Marjohan memberanikan diri mengirim utusan ke rumah Layla, mamak Layla menolak mentah-mentah. > “...

Ada Apa Dengan Cinta

Namaku Cinta. Aku pikir aku tahu banyak tentang cinta. Kata-kata adalah duniaku, puisiku berbicara lebih lantang dari suara. Tapi tidak ada puisi yang bisa mempersiapkanku untuk jatuh cinta kepada seseorang seperti Rangga. Rangga adalah sunyi yang hangat. Ia seperti buku tua di rak perpustakaan—tak menarik di mata banyak orang, tapi menyimpan dunia di dalamnya. Ia membuatku ingin diam, dan mendengar. Namun waktu tak pernah bersahabat. Saat aku mulai yakin akan perasaan ini, dia harus pergi. Ke New York. Mengikuti ayahnya yang kembali diberi kesempatan hidup baru. Kami bertengkar. Aku terluka. Tapi aku sadar, aku tak bisa membiarkannya pergi tanpa mengatakannya. Aku mengejarnya ke bandara. Nafasku sesak. Tapi aku sampai, tepat sebelum dia masuk ke ruang keberangkatan. Dia berdiri di kejauhan, mengenakan jaket abu-abu dan ransel yang besar. Aku memanggil namanya—pelan tapi pasti. Ia menoleh. Tatapan itu... penuh kenangan yang belum sempat dibuat. Kami berdiri berjauhan. Mungkin tiga atau...

A Walk To Remember

Aku sudah mengenal Nanat sejak kecil. Sejak kami duduk di bangku sekolah dasar di kampung yang sama, hingga akhirnya kami berdua melanjutkan studi di kota yang berbeda. Entah kenapa, meskipun kami sering terpisah oleh jarak, persahabatan kami tidak pernah terputus. Setiap kali ada waktu libur, aku selalu mengunjunginya, begitu juga sebaliknya. Rasanya, kami sudah seperti saudara. Namaku drg. Abimana. Kini, aku sudah 35 tahun, seorang dokter gigi yang membuka praktik di klinik kecil milikku sendiri. Sementara Nanat, ia seorang pengacara yang kini bekerja di salah satu firma hukum besar di kota. Tapi meskipun kesibukan kami semakin padat, kami selalu menemukan waktu untuk saling berbagi cerita, tertawa, atau sekadar duduk bersama sambil menikmati kopi. Aku mulai merasa bahwa hubungan kami telah berkembang menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan. Tanpa kusadari, setiap detik yang kuhabiskan bersamanya semakin terasa berarti. Rasanya nyaman sekali berada di dekatnya. Senyumnya...

My Sassy Girl

Namanya Nadya. Asisten baruku di klinik kecil tempatku praktik setiap sore sepulang dari puskesmas. Dia datang dengan senyum ramah dan kerudung warna pastel yang selalu berbeda tiap hari. Di balik usianya yang masih 22 tahun, sikapnya tenang, cekatan, dan sopan. Kami cepat akrab, meski tak pernah benar-benar bicara banyak hal pribadi. Aku, drg. Abimana, dokter gigi berusia 34 tahun yang terlalu banyak menyimpan dalam hati. --- Hari-hari bersama Nadya terasa ringan. Dia tahu kapan harus diam, kapan harus bercanda, dan kapan menyodorkan teh hangat saat aku kelelahan. Kadang, saat dia sibuk mencatat daftar stok bahan atau mengepel ruang praktik, aku hanya memandanginya dalam diam. Ada sesuatu dalam dirinya yang tak bisa kugambarkan—tenang, tulus, dan membuatku ingin pulang cepat hanya untuk melihatnya duduk di balik meja resepsionis. Tapi aku sadar. Aku jauh lebih tua. Aku hanya seorang dokter gigi di klinik pinggiran kota. Sementara dia, gadis muda yang cerah dan mungkin punya banyak imp...

Flipped

Hari itu, kami—anggota PDGI (Persatuan Dokter Gigi Indonesia) cabang Berau—mengadakan penyuluhan gigi di SDN 3 Tanjung Batu. Aku, drg. Abimana, berdiri di depan kelas sambil menjelaskan cara menyikat gigi yang benar. Suasana ramai, anak-anak heboh, tapi ada satu hal yang membuatku tak bisa fokus. Dia datang membawa goodie bag. “Dok, ini brosur dan pasta giginya udah dibagiin semua,” katanya ramah. Aku menoleh. “Oh, makasih… eh, Ami, ya?” “Iya. Asistennya drg. Lanny.” Aku mengangguk sambil berusaha menyembunyikan kegugupan. “Saya Abimana, tapi… ya, mungkin kamu udah dengar juga.” Ami tertawa. “Udah. Katanya dokter paling serius di PDGI.” Aku nyengir. “Serius karena gugup ngomong di depan anak-anak.” Tawanya ringan, dan sejak hari itu, entah kenapa aku selalu menanti-nanti pertemuan berikutnya. --- Beberapa bulan berlalu. Setiap ada kegiatan PDGI, mataku secara otomatis mencarinya. Kadang kami ngobrol sebentar di sela acara. Kadang aku memberanikan diri membawakannya air minum atau sekad...

Love Games

Aku bertugas di Puskesmas Gunung Tabur, Berau, Kalimantan Timur. Di balik kesederhanaannya, tempat ini memberiku banyak cerita—termasuk satu kisah yang tak akan pernah benar-benar hilang. Namanya Tri. Seorang perawat baru, wajah ayu, kulit putih, dan pembawaannya memikat. Ayahnya orang Bugis, keras dan tegas. Ibunya Jawa dari Klaten, lembut dan ramah. Tri seperti kombinasi keduanya—penuh percaya diri dan mematikan dalam diam. Kami pertama kali bertemu di ruang UGD. Dia menyapaku lebih dulu, tersenyum sambil mengulurkan tangan. Tatapan matanya tajam, seolah bisa membaca isi pikiranku. Sejak hari itu, entah kenapa aku selalu menantikan kehadirannya. Tiap pagi, senyumnya seperti membuka harapan. Tiap malam, aku memikirkan cara membuatnya bahagia. Kadang ia bercanda lewat chat. Kadang memberi kopi instan di jam lembur. Kadang, hanya sekadar menatapku lama lalu berkata: “Dok, kamu cocoknya jadi pasangan yang sabar. Tapi sabar itu bosan, lho...” Aku tertawa. Kupikir ia hanya menggoda. Tapi s...

The Conjuring

Aku orang Minang, lahir dan besar di Bukittinggi. Tapi sejak usia 18 tahun, aku mulai merantau. Dari Bukittinggi ke Bandung, hingga akhirnya pindah ke Berau, Kalimantan Timur. Tapi ke mana pun aku pergi, satu hal selalu mengikutiku—sosok nenek tua berambut panjang dan berbungkuk, yang hanya muncul saat malam. Pertama kali aku melihatnya waktu kecil, di rumah lama keluarga kami di kaki Gunung Singgalang. Saat itu aku mengira itu hanya mimpi buruk. Tapi seiring waktu, aku sadar: dia bukan hanya mimpi. --- Waktu pindah ke kontrakan kecil di Berau, aku sempat berpikir semuanya akan berubah. Daerahnya tenang, tetangganya ramah, dan tempat kerjaku dekat. Tapi malam pertama, tepat pukul 2 dini hari, aku mendengar suara sendal kayu berderak di lantai depan kamarku. “Tek… tek… tek…” Saat kulirik dari balik kelambu, sosok itu berdiri di pojok ruangan. Tubuhnya kecil, mengenakan kebaya kusam, rambutnya menutupi wajah, dan tubuhnya bungkuk seperti ranting tua. Aku menahan napas. Tak bisa bergerak....

The Haunting of Hill House

Tiga bulan lalu, aku dipindahtugaskan ke sebuah klinik kecil di Simpang Tiga, Payakumbuh, Sumatera Barat. Karena biaya kontrakan mahal, aku menerima tawaran seorang warga untuk menempati sebuah rumah gadang tua yang katanya kosong tak berpenghuni sejak lima tahun lalu. Rumah BESAR ya maksudnya, bukan rumah adat khas Minang itu.  “Rumah itu dulu punya keluarga Sutan Marajo,” kata Pak Anto, yang mengantarku. “Tapi sejak kejadian... ndak ado nan sanggup tinggal di sana.” Kejadian? Aku tak bertanya lebih jauh. Rumah itu besar, dinding kayu ukiran lama. Sedikit lapuk, tapi anggun. Aku merasa tertantang untuk menempatinya. Hari pertama, semuanya baik-baik saja. Tapi malamnya—sekitar pukul 2 dini hari—aku terbangun oleh suara perempuan menangis dari dapur. Bukan tangisan biasa, melainkan lirih... menyayat... dan seperti berasal dari balik dinding. Aku turun dari ranjang, membawa senter. Saat menyibak tirai dapur, suara itu hilang. Dapur kosong. Tapi di lantai kayu, ada jejak kaki basah......

Poltergeist

Ramadhan 2017, aku pulang kampung ke Jorong Kampuang Ateh setelah lima tahun mondok di pesantren di Jawa Tengah. Suasana kampung Minang biasanya semarak: beduk sahur, petasan anak-anak, suara tadarus dari surau, dan aroma lamang di dapur-dapur warga. Tapi kali ini, semuanya sunyi. Jalan ke Surau Imam Bonjol—yang biasanya tak pernah sepi—kini gelap dan ditinggalkan. Orang-orang memilih shalat di rumah. Anak-anak tak lagi berani mengaji selepas Maghrib. Kakekku, Datuak Sati, seorang ninik mamak yang dituakan di kampung, hanya menggeleng saat aku tanya penyebabnya. Namun ketika aku bertanya ke Pak Caniago, muadzin surau, barulah aku dengar cerita sesungguhnya. “Makhluk itu muncul sejak sebelum Ramadhan. Hitam, tinggi, mato merah... duduk di cabang pohon waru di jalan sawah. Ndakdo urang nan ka surau malam-malam. Yang berani, jatuh sakit atau hilang akal.” Cerita itu tak membuatku gentar, malah hatiku bergolak. Surau adalah rumah Allah. Kalau warga takut lewat jalan itu, berarti ada yang s...

24 Oktober 2023

Aku membuka kotak yang kusimpan di lemari. Di dalamnya ada rekam medis pertamanya, cetakan gigi, dan secarik catatan kecil bertuliskan "Dok Arfan, makasih ya. Dari pasien cerewetmu, Nayla." Tanganku gemetar. Hari ini, untuk pertama kalinya… aku menangis. Untuk senyum yang tak pernah jadi milikku.

19 Oktober 2023

Hari ini aku dapat kabar… Nayla meninggal. Kecelakaan. Dunia seperti ikut berhenti bersamaku. Aku datang ke pemakamannya. Berdiri di antara orang-orang yang mencintainya secara nyata, sedangkan aku? Aku hanya bayang-bayang di sudut kenangan. Tak ada yang tahu, bahkan ia pun tak pernah tahu… aku menyayanginya lebih dari yang bisa kupahami.